Senin, 21 Februari 2011

gde agung lontar

OUTSIDE THE LOOKING IN BY TIMOTHY PRICE @FOTOBLUR


Kucing Schrödinger
Gde Agung Lontar
RIAUPOS > FEBRUARY 20, 2011


Ya, kucing itu sekarang ada di dalam sebuah kotak besar. Sebuah kamar; katakanlah begitu, supaya Anda sedikit lebih lega. Tetapi tak ada apa-apa lagi di sana. Kosong. Kecuali hanya sekeping pinggan yang pada permukaannya terhidang beberapa potong daging. Kita boleh memilih daging rusakah, daging lembukah, daging ayamkah, atau bahkan daging tikuskah; itu tak jadi soal. Kita juga boleh memilih daging-daging itu disajikan dengan olahan yang bagai-mana. Disemurkah, direndangkah, digulaikah, didendengkah, digorengkah, atau bahkan sekadar direbuskah; itu tak jadi soal. Yang penting dan yang sudah pasti seharusnya hidangan itu begitu menggugah selera santap si kucing. Keterlaluan kalau tidak. 

Yang jadi persoalan, kucing itu tidak tahu bahwa hidangan yang tampaknya begitu lezat itu sebelumnya telah dibumbui arsenik!

Akankah kucing itu memakannya dan kemudian mati? Ataukah dia tidak memakannya dan hanya berdiam diri saja? Atau kucing itu justru mengeong-ngeong sembari berkeliling ruangan berusaha mencari celah untuk mendapatkan jalan keluar? Kalian tahu? Bahkan ilmuwan-ilmuwan fisika sekelas jawara Nobel pun pusing sebelas keliling dengan persoalan ini. Ketika mereka sudah membahasnya, tiba-tiba saja alam semesta raya berkembang menjadi jumlah yang tak terhingga. 

Alam semesta itu tiba-tiba beranak-pinak bercucu-piut berpuak-gayut, hingga tak terhitung lagi jumlahnya. Ibaratkan sebuah sungai besar dengan begitu banyak cabang anak-sungainya yang kemudian berdahan-cabang-ranting lagi dalam kali suak dan parit; hanya saja dalam alir yang terbalik. Semuanya paralel, tetapi tidak saling terhubung, tidak pula saling memengaruhi. Masing-masing semesta raya itu independen; berdiri sendiri, mandiri. Seperti gelembung-gelembung busa yang ditiup kekanak; masing-masing “terbang” dan memuai ke arah yang berbeda.

Namun seluruh rangkaian ini sesungguhnya barangkali hanya ada di dalam minda pengamat saja; yang dalam hal ini para fisikawan teoritis itu. Di sinilah barangkali permasalahannya, dan bahkan mungkin juga paradoksnya. Merujuk pada Einstein, segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah nisbi, karena semua nilai tergantung pada posisi pengamatnya. Apakah ini dapat dikatakan merupakan bentuk modern dari ajaran Kaum Sofis, khususnya Protagoras? Namun lagi, bagaimana pun cerdasnya pengamat itu, ia tetap saja merupakan sesuatu yang berada di luar dari sesuatu yang diamatinya. Ia tidak mengalaminya sendiri, maka dalam konteks kucing kita itu, ia menjadi sesuatu yang sesungguhnya paradoks. Bila si pengamat ikut berada di dalam kamar itu, ia tidak akan  tahu apakah alam semesta telah beranak-pinak atau belum. Tidak, bukan begitu; bila ia berada di alam semesta di mana kucing kita itu berada, ia tidak akan tahu apakah alam semesta telah beranak-pinak atau belum, baik ketika kucing itu belum memakan daging yang terlihat sangat lezat, maupun ketika sedang, atau bahkan sesudahnya. Baik kucing itu kemudian mati, atau tetap sehat wal afiat. Lagi pula, apakah semesta raya semata akan beranak-pinak hanya karena urusan kucing sial itu? Terlalu istimewa dia!

Hanya dalam cerita-cerita fiksi ilmiah saja kita akan menemukan kisah yang berbeda. Namun, sebagaimana dongeng dan mitos, seringkali cerita-cerita itu sesungguhnya berhamil kebenaran yang terdalam.

Jadi begitulah, ketika keempat bidang tegak bernama dinding itu adalah semata-mata dinding, tidak ada apa-apa lagi di sana sebagaimana lazimnya: pintu, jendela, ventilasi, bovenlicht, atau bahkan sekadar lubang terawang; aku seharusnya mulai was-was. Ini jelas-jelas semata-mata sebuah ruangan berbentuk kotak, atau bahkan jangan-jangan memang sebuah ruangan di dalam kotak itu sendiri. Bersama lantai, jelas sudah ada lima bidang datar dan rata dengan kedataran dan kerataan sama-sekali. Maka ketika pandangan kuarahkan ke atas, lengkaplah menjadi ada enam bidang yang membatasi, sebagaimana seharusnya sebuah kotak; atau bahkan nyaris sebuah kubus. Satu-satunya yang membedakan dari yang lainnya, pada bidang datar yang di atas itu –-langit-langit pasti-– tergantung sebuah bola lampu listrik dari mana datangnya sumber cahaya yang menerangi ruang yang sesungguhnya pastilah gelap gulita ini. Jadi, cahaya adalah pengisi kegelapan, penutup kegelapan, pengusir kegelapan; terserah istilah apa yang Anda inginkan. Dengan sandaran itu, kita boleh menduga kegelapan ada lebih dahulu daripada terang, daripada cahaya. Tak pernah ada cerita gelap menutup terang. Tetapi, apakah kegelapan itu? Apakah terang @ cahaya itu? Terang atau cahaya adalah pancaran energi, ia dapat berupa gelombang dapat berupa partikel atau bahkan dapat berperilaku keduanya. Baiklah kalau begitu; bagaimana dengan kegelapan? Apakah ia merupakan sesuatu? Kalau ia bukan sesuatu, kenapa ia bernama? Kalau ia bukan sesuatu, kenapa ada sesuatu yang merupakan antitesanya? Tetapi kalau ia sesuatu, kenapa ia bukan apa-apa?

Ada sebuah hidangan di sana. Ya, terletak nyaris di tengah-tengah ruangan, sementara aku sendiri terperosok di salah satu pojok dari kedelapan sudut yang ada. Hidangan itu jelas sangat lezat kelihatannya, karena disajikan dengan cukup komplit, dengan bahan-bahan dan olahan yang sangat kusukai. Terletak di atas hamparan sepinggan lebar, dialasi dengan senampan stainless steel berkilat yang juga terletak segelas minuman di atasnya. Sejak kapan hidangan itu ada di situ? Aku tidak pernah melihat ada seseorang memasukkan hidangan itu ke dalam ruangan ini. Kalau benar ada seseorang yang telah memasukkan hidangan itu, pastilah sebuah celah ada di antara keenam bidang yang membatasi ruangan ini. Sebuah celah yang barangkali memiliki tutup yang begitu rapi sehingga nyaris mustahil untuk dilihat secara sepintas. Kalau tidak, apakah mungkin hidangan itu ada dengan begitu saja? Bahkan manna dan salwa tidak menjadi ada dengan begitu saja. Ia bermula dari kelaparan Kaum Israil yang berbuah doa dari Musa yang kemudian berbuah rahmat dan rahim dari Allah yang kemudian berbuah mukjizat yang kemudian jadilah ia. Hidangan di dalam ruangan ini kelihatannya tidak. Aku tidak sedang kelaparan, aku tidak pernah meminta, aku tidak melihat seseorang meletakkannya. Apakah ia melebihi manna dan salwa?

Ataukah hidangan itu sudah ada sebelum aku ada di dalam ruangan ini? Teringat kemungkinan itu aku tiba-tiba jadi terpikir akan keberadaan diriku sendiri. Sejak kapan aku berada di dalam ruangan ini? Seingatku aku tidak pernah masuk ke dalam ruangan ini. Aku juga tidak pernah ingat kalau-kalau ada seseorang telah memasukkanku ke dalam ruangan ini. Aku bahkan tidak ingat kapan pertama kali aku tersadar bahwa aku telah berada di dalam ruangan ini. Apakah aku pernah pertama kali tersadar? Kalau aku menyadari hal itu, mungkin itu dapat menjadi petunjuk bahwa ada kemungkinan besar aku telah dimasukkan ke dalam ruangan ini dalam keadaan tidak sadarkan diri. Berarti ini semacam pemaksaan, atau paling tidak pengabaian atas kemungkinan pilihanku sendiri soal apakah aku menghendakinya atau tidak. Pada kenyataannya, paling tidak, setelah mengalami keadaan pada saat ini seandainya sebelumnya aku bisa memilih aku pasti akan menolaknya. Tetapi jelas itu adalah kalau. Kita tak dapat berdebat dengannya. 

Paling tidak, sebelum lengkungan ruang-waktu dapat dipahami sepenuhnya dan dapat dimanipulasi dengan sesuka hati.

Jadi, aku sendiri tidak tahu dengan persis tentang keberadaanku dalam ruangan ini: rangkaian peristiwanya, alasan-alasannya, bahkan juga waktunya –karena sejak berada di dalam ruangan ini aku telah kehilangan akan orientasi dimensi waktu sama sekali. Namun, bagaimana dengan riwayat sebelum aku berada di dalam ruangan ini? Apakah aku memiliki sesuatu untuk diingat? Andaikan aku mengetahui rangkaian peristiwa sebelum aku tersadar dan mendapatkan diriku berada di dalam ruangan ini, paling tidak aku akan dapat memahami dan kemudian mencoba melacak rangkaian peristiwa selanjutnya, dimulai dari titik di mana ingatanku akan peristiwa sebelum ini berakhir.

Tetapi, apakah ingatan itu sendiri? Apakah rangkaian peristiwa itu? Apakah pengalaman itu? Bagaimana aku akan merangkai “dua” pengalaman sebelum dan sekarang yang barangkali saja memang aku ingat sementara di antara keduanya ada celah yang aku tidak tahu? Dasar-dasar apakah yang dengan demikian aku dapat mengisi celah itu? Hukum sebab-akibat? Itu bukanlah hukum yang universal; ternyata. Tahukah Anda bahwa ada banyak sekali partikel yang dapat muncul dengan tiba-tiba, tanpa harus ada sebab – kalau partikel itu adalah sebuah akibat? Kalau sudah demikian, siapakah aku? Apakah pengalaman yang menjadi ingatan di dalam kepalaku – benarkah ingatan itu berada di dalam kepala? – adalah benar dan fakta itu merupakan pengalamanku sendiri dan bukan karena ada seseorang – atau sesuatu – yang telah menanamnya dengan mengabaikan keindependensianku? 

Semacam ingatan artifisial? Apakah aku akan mengetahuinya? Apakah aku akan memercayainya? Apakah nanti akan ada semacam adegan deja vu di dalam Matrix? Jadi, kalau aku sendiri meragukan ingatan itu, lalu, bagaimana aku akan mengisi celah kosong di antara “kedua” ingatan itu? Pada saat yang sama, dengan demikian lantas apa gunanya aku mengingat-ingat ingatan yang kemungkinan artifisial itu? Hanya jadi sekadar omong kosong, bukan?

Ruangan ini bagiku tidak terasa panas dan tidak pula dingin. Keadaan yang nyaris ideal ini seharusnya ditunjang oleh adanya suatu sistim sirkulasi udara. Sistim sirkulasi udara membutuhkan adanya celah-celah untuk boleh bergeraknya udara dari satu tempat ke tempat lainnya, serta tentu saja adanya semacam energi yang dapat memberikan perbedaan tekanan udara di antara tempat-tempat itu. Tetapi, seperti sudah kukatakan tadi, aku tidak melihat adanya celah-celah itu; sekecil apa pun. Aku bahkan tidak pernah merasakan sedikit pun adanya aliran udara di dalam ruangan ini. Kalaupun aku kemudian merasakan adanya udara di dalam ruangan ini, itu pertama-tama jelas karena aku bernapas, dan kemudian saat aku menggerak-gerakkan anggota badanku terasa juga sedikit-banyaknya. Tetapi, dengan tanpa bermaksud mengabaikan betapa pentingnya udara bagi kehidupan, aku mengatakan hal ini sesungguhnya dengan maksud dalam usaha untuk menemukan sebuah celah, sekecil apa pun.
 

Tetapi, kenapa aku harus menemukan sebuah celah? Apakah itu penting? Untuk apa? Pertanyaan-pertanyaan ini lalu sedikit mengguncang pemikiranku. Ya, kenapa? Apakah sebuah celah –sekecil apa pun– lebih penting, atau setidaknya lebih menggoda, daripada seperangkat hidangan yang sudah terhampar dengan manis di tengah-tengah ruangan ini? Apa yang dapat aku harapkan dari sebuah celah? Dari seperangkat hidangan lezat, jelas menjanjikan kenikmatan dan kekenyangan kuliner; serta pada saat kemudian akan memberikan tambahan energi bagiku. 

Sebuah celah, mungkin jangan-jangan bahkan hanya akan menimbulkan kecemasan. Bagaimana kalau di balik celah itu tengah bersiap-siap berton-ton air atau pasir akan dialirkan? Atau mungkin beribu-ribu ekor kalajengking, atau kelabang, atau bahkan ular? Atau sekadar hembusan gas metan? Apakah itu sebuah khayalan yang sangat menyenangkan berkat keberhasilan menemukan sebuah celah?

Tetapi, bagaimana pun, agaknya sebuah celah adalah sebuah janji, sebuah peluang. Sebilah mata parang dapat menetak tulang atau menebas ilalang. Demikianlah sebuah celah. Ia adalah sebuah harapan, atau paling tidak sebuah perbedaan; dari kondisi yang konstan yang demikian ini. Tetapi teringat dengan soal sirkulasi udara tadi, itu mungkin sekali bukan sebuah teka-teki tetapi sekadar fisika anak SD. Kotak di mana ruanganku ini berada kemungkinan sekali memiliki konstruksi berdinding ganda, sehingga menyerupai sebuah termos. Anda tahu kenapa termos adalah sebuah penemuan yang paling gemilang? Ketika kita masukkan benda panas di dalamnya, panas benda itu akan bertahan cukup lama. Ketika kita masukkan benda dingin di dalamnya, dingin benda itu akan bertahan cukup lama Coba, bagaimana mungkin dia bisa membedakan yang mana yang panas dan yang mana yang dingin? 

Jadi, kalau benar demikian, aku jelas tidak bisa berharap lebih jauh tentang kemungkinan adanya celah itu. Lalu, kalau begitu, bagaimana mungkin aku dan hidangan itu mengada di dalam ruangan ini? Apakah kami berdua semacam manna dan salwa?

Dalam dunia fiksi ilmiah, ada semacam alat yang berfungsi sebagai alat transportasi antar ruang-waktu. Sebenarnya kalau mau ditelaah lebih jauh konsep ini sesungguhnya agak membingungkan karena bisa tercampur antara satu dengan yang lain; mulai dari sekadar “pemindahan fisik nyata dengan sangat cepat”, “pemindahan fisik secara partikel”, sampai kepada “mesin waktu” – karena kita tahu, lagi-lagi Einstein, ruang dan waktu itu adalah nisbi. Namun untuk memudahkan, kita berpikir sederhana sajalah: andaikan memang benar begitu, yaitu paling tidak dengan cara pemindahan partikel antar-ruang seperti dalam film-film Star Trek, sehingga tidak perlu ada celah di antara ruangan itu –yah, itu mungkin saja. Tetapi, lagi-lagi, siapa yang telah melakukannya? Apa alasannya? Kapan? Dan yang terpenting: apa tujuannya? Dan kalau kita sudah membahas tentang apa tujuannya, itu bisa bermakna apa tujuannya bagi dirinya sendiri dan bagi subjek-(dalam hal ini aku dan, bolehlah juga, hidangan itu)-nya? Apa motifnya? Dan tujuan itu ditentukan oleh siapa? Apakah satu pihak berhak menentukan tujuan pihak lain untuk pihak lain itu tanpa perundingan dengan pihak lain itu apalagi persetujuan? Bukankah ini menjadi semacam tirani?

Baiklah, karena aku tidak memiliki proposisi lain selain kenyataan bahwa aku ada di dalam ruangan ini –bersama hidangan itu– tidak peduli apa pun tujuan yang telah ditentukan sebelumnya oleh sesuatu dan atau seseorang yang telah menempatkanku di sini, maka aku seharusnya sudah mulai memikirkan tujuanku sendiri: saat ini, dan ke depan. Sebagai spesies manusia –aku masih jelas menyadari hal itu pada saat ini meskipun aku tidak lagi punya referensi dan pembanding– aku sangat layak dan sudah seharusnya memikirkan dan menetapkan hal yang demikian; karena kita tahu bahkan hewan dan tumbuh-tumbuhan pun memiliki tujuan hidup mereka masing-masing, baik tujuan jangka pendek, maupun tujuan jangka panjang. Tetapi, sebelum memikirkan hal itu, yang pertama-tama sekali tentulah aku harus menetapkan terlebih dahulu –atau dalam bahasa lain– memahami terlebih dahulu diriku sendiri. Karena sebuah tujuan –yang bukan sekadar bersifat naluriah belaka– seharusnya memiliki sebuah pelabuhan awal di mana tempat titik tolak atau landasan yang kuat berada, dan itu adalah pemahaman tentang diri sendiri. Tetapi tahukah Anda? Ternyata itu bukanlah hal yang mudah – bahkan mungkin hal yang tersulit; atau tidak. Ah, Anda tahu, ada yang begitu mudahnya belajar bermain gitar klasik sebagaimana ada yang begitu mudahnya menghitung segala kelindan matematika atau ada yang begitu mudahnya pula melenturkan tubuh berayun-ayun di atas palang senam – sebagaimana banyak pula yang lainnya begitu kesulitan untuk melakukannya.
Haah! Atau mungkin ruangan yang serba tertutup ini yang sudah mereduksi kemampuan benakku. Andaikata aku berada di sebuah ruangan yang terbuka dengan segala kehendak-bebas ada di tanganku, pemikiran ruwet seperti itu mungkin tidak akan jadi kusut berkelindan di dalam kepala-hotakku –atau kemungkinan besar bahkan tidak terpikirkan sama-sekali. Aha! Tidak terpikirkan sama sekali! Atau, jangan-jangan, itulah tujuan sesungguhnya kenapa aku ada di dalam ruangan ini? Bahwa sebelumnya aku tidak pernah memikirkan tentang hal itu dan ketika berada di dalam ruangan ini dalam keadaan seperti ini kemudian memaksa kepala-hotakku berputar hingga kemudian terpikirkan hal yang semacam ini? Yaitu, ketika orang akan menjahit baru terpikirkan benang dan jarum atau ketika kancing lepas baru terbayang-kan peniti? Harus ada semacam keadaan yang memaksa terlebih dahulu? Sebagaimana para wali, resi, sufi, dan pertapa terhadap dirinya sendiri? Tetapi, kalau demikian, timbul lagi pertanyaan itu: siapakah yang berhak menentukan tujuan seseorang itu? Siapakah yang berhak menentukan kebaikan bagi seseorang? Kalau seseorang yang lain yang menentukan dan atau menetapkan tujuan untuk seseorang itu, kalau tujuan itu tidak tercapai, siapakah yang harus bertanggungjawab? Apakah seseorang yang lain itu atau seseorang itu?

Oh, tadi aku pikir ada angin semilir mengalir. Rupanya hanya sekadar telingaku yang berdesir. Atau mungkin hanya hatiku. Aku letih sudah terpojok, lalu aku mencoba berdiri. Pegal-pegal menggeramit sekujur tubuh, setelah berjam-jam tanpa gerakan berarti. Semacam pukang yang stres dimasukkan ke kandang. Kuangkat lengan kananku setinggi-tingginya dengan ujung jari tengah yang paling tinggi ditambah jinjit, separuh tinggi ruang pun tak tergapai, apalagi ujung lampu itu, apatah lagi langit-langit itu. Tetapi paling tidak gerakan itu juga bisa bermakna meregangkan anggota-anggota tubuhku  dengan beberapa gemeretak yang menyenangkan.

Lalu aku melangkah. Satu dua, menyusuri sisi dinding, dari sudut ke sudut. Kalau aku seekor singa, mungkin aku akan segera mengencingi setiap sudut itu, sebagai penanda batas wilayah kekuasaanku. Jadi, mungkin saja yang kulakukan itu juga sekadar semacam naluri primordial, mencoba memahami ruangan yang ada, ukuran-ukurannya, bentuk-bentuknya, serta kemungkinan wilayah penguasaannya. Atau mungkin itu semua terlalu berlebihan. Bagaimana pun, setelah berjam-jam, kelaparan mulai menggeram, sehingga pada putaran ketiga aku pun menyusuri tengah ruangan menghampiri hidangan. Hm, meski tak lagi mengepulkan asap kehangatan, namun aroma kelezatannya masih mengawang.

Tetapi aku masih mencoba menoleh ke berbagai arah ruangan. Baiklah, ada aku dan ada hidangan di ruangan tertutup ini. Apakah ini semacam sekadar percobaan daya tahan primata akan godaan atau perlawanan daya tahan fisik semata, atau sudah masuk ke dalam wilayah psikologi dengan segala gejala kecurigaan dan seterusnya? Kenapa mereka tidak memberiku sebuah tongkat dari balik jeruji? 

Atau mungkin sebuah pistol untuk bermain rulet rusia? Mungkin itulah tujuan mereka, sekadar ingin melihat seberapa besar daya tahanku atas kecurigaan-kecurigaanku sendiri. Apakah aku akan bercuriga, jangan-jangan ada arsenik itu, dan dengan demikian menahan diri hingga kurus kering dan nasi menjadi basi? Atau aku akan mengabaikan itu semua dan melahap hidangan itu begitu saja demi memberangus rasa lapar? Tetapi, apa pun, tetap saja ini seperti rulet rusia juga. Walaupun mungkin sekadar di dalam mindaku semata.

Oya, aku mungkin bisa mencicipinya, sebagai penguji –mungkin tidak akan berpengaruh dengan dosis kecil seperti itu. Lalu aku bisa menunggu. Kalau memang ada arsenik atau racun apa pun aku mungkin sekadar akan mengalami efek-efek yang ringan, dan kalau aku tetap berada dalam keadaan sehat wal afiat berarti hidangan itu aman dan dengan demikian aku dapat segera menyantapnya. Tetapi sebelum itu, bagaimana mungkin aku bisa tahu seberapa banyak racun itu dimasukkan? Mungkin begitu banyaknya sehingga meskipun sekadar aku cicipi aku akan mati, atau mungkin begitu sedikitnya sehingga ketika aku cicipi tidak berpengaruh apa-apa dan hanya akan berarti ketika aku memakan seluruh hidangan itu berkat efek akumulasi. Ah, ini tiba-tiba jadi seperti kisah-kisah Sherlock Holmes, Agatha Christie, atau thriller Hitchcok. Namun bagaimana pun aku telah dengan rapi duduk bersila di dekat hidangan itu.

Aku tidak tahu apa yang terjadi sesungguhnya dengan kucing Schrödinger itu. Ketika kamar itu kubuka, kucing itu telah mati dengan sepotong sisa daging masih tersangkut di salah satu taringnya. Tetapi dengan Kuantum, di semesta raya lain kucing itu masih tetap bertahan tanpa menyentuh sedikit pun hidangan itu, semata-mata karena ia masih berkutat dengan pikiran-pikiran filsafat dan religiositasnya. Di semesta itu mungkin justru aku yang sudah mati, karena terlalu lama menunggu kapankah kucing itu akhirnya memakan hidangan yang berarsenik itu. Sementara dalam waktu yang sama, semesta-semesta lain telah beranak-pinak bercucu-piut berpuak-gayut tanpa harus menunggu keputusan pilihan antara aku dan kucing Schrödinger.***

Payungsekaki, 010211


Gde Agung Lontar
adalah cerpenis dan novelis. Cerpen-cerpen dan novelnya beberapa kali memenangkan lomba dan telah dibukukan.  Salah satu novelnya, Nubuat, meraih Anugerah Ganti IV. Tinggal di Pekanbaru.



Jumat, 18 Februari 2011

riki utomi


SUN SHINE BY TANOY BHATTACHARYA @FOTOBLUR


GADIS PELANTAI
RIKI UTOMI
RIAUPOS > FEBRUARY, 13, 2011

Dia memiliki nama seperti laki-laki, Azmi. Tapi dia perempuan yang sangat kami senangi. Perawakannya sederhana dan gayanya pun sederhana. Ia selalu tampil cerah, nyaris tak ada secuil masalah hinggap pada wajahnya yang masih tampak remaja itu. Ia mengajar kewirausahaan di kelas kami. Kehadirannya selalu kami nanti-nanti, karena kami lebih senang dengan sosoknya yang selalu segar membawa pelajaran untuk masuk ke dalam pikiran.

Kami memanggilnya Bu Azmi, kalau guru-guru di majelis Kak Azmi. Aku tak tahu kenapa banyak rekan-rekannya memanggilnya begitu. Sebutan kata ‘Kak’ telah menempel lekat di depan namanya. Ia seperti dituakan oleh rekan-rekannya yang lain. Kami senang dengannya karena sikapnya yang bersahaja atau pun dari perangainya yang mengundang simpati pada siapa saja. Namun begitu, aku lebih senang pada segala bentuk tindak lakunya, yang menurutku sangat dewasa dan tak mengandung secuil pun sikap untuk membuat orang marah atau ia yang marah. Entahlah. Namun seperti teman-temanku yang lain, aku turut menjadi suka.

Bu Azmi tinggal di sebuah desa kecil. Desa tempatnya tinggal menjadi jalur lalu-lintas para pemudik yang ingin pulang balik dari Selatpanjang ke Telukbelitung atau sebaliknya Telukbelitung ke Selatpanjang. Untuk menempuh ke desanya dengan mengendarai sepeda motor berjarak lebih kurang sepuluh menit dari Telukbelitung. Desa yang menjadi jalur pelabuhan penyeberangan pompong untuk sampai ke tanah berikutnya yaitu Ketapang. Nama desa itu Pelantai. Sebuah desa yang sepi menurutku. Dengan penduduk yang rata-rata bermatapencaharian pokok sebagai nelayan yang selalu saja berada di laut. Menebarkan jaring, jala, atau perangkap. Lalu mengharap dengan sangat ikan-ikan yang banyak untuk dijual atau diasinkan.

Aku tak tahu persis letak rumahnya di mana. Ia masih tinggal bersama ibunya. Ia masih muda dengan umur yang kutaksir sebaya dengan bibiku di Pekanbaru. Tapi kami siswanya, selalu diam-diam, mencari atau mencuri semangatnya belajar dan selalu menanti kehadirannya untuk masuk kelas. Ia telah menjadi sosok yang melekat di hati kami. Aku tak tahu mengapa, turut juga merasakan itu, seperti teman-temanku itu. Barangkali hal ini muncul karena aku selalu melihatnya penuh senyum pada siapa saja atau karena perawakannya selalu bersahaja juga dewasa, mencerminkan sosok keibuan yang tinggi meskipun ia belum berkeluarga dan ia tak senang dipuji tapi hanya senang mengajak kami sama-sama untuk saling menghargai.
 

***
Sekolah kami sebuah sekolah kejuruan. Terletak agak jauh dari keramaian kota karena letak sekolah kami sangat menjorok masuk ke dalam lorong. Meski begitu sekolah kami cukup megah dengan peralatan praktikum yang cukup memadai dalam tiga macam jurusan. Lebih kurang delapan ratus meter untuk menempuh sekolah kami. 

Dengan terlebih dahulu melewati jalan aspal yang pecah juga becek ketika turun hujan, kita harus memiliki bekal untuk sabar. Apalagi ketika sampai di pekarangan sekolah yang sebagian besar hamparan tanah gambut yang sudah tentu membuat sepatu kita belepotan lantaran becek yang tak terkira. Kami selalu menghentak-hentakkan sepatu ketika tiba di mulut teras kelas, seperti tentara yang jalan di tempat. 

Hanya untuk sekedar agar tanah-tanah becek gambut yang melekat di tapak sepatu kami tak terbawa masuk ke dalam kelas.
Sekolah kami berdiri megah di lahan baru. Setelah beberapa tahun menunjukkan eksistensinya sebagai sekolah negeri yang sebelumnya dengan status swasta. Namun yang aku kurang betah, letak yang terlalu terpojok itu, di tengah-tengah bekas hutan rumbia yang dulu mungkin saja sebagai tempat jin bertendang, kata orang-orang. Tapi ini kehendak orang tuaku sendiri yang wanti-wanti ingin aku pandai dalam bidang teknik. Untuk itu aku masuk pada jurusan Mekanik Otomotif.

Ada sesuatu yang begitu mengusik hati kami ketika seminggu yang lalu. Kami sebagian terlambat datang ke sekolah. Menurut kami wajar lantaran kami yang dari pulau-pulau seberang ini selalu menanti pompong untuk dapat kami tumpangi. Maka, keterlambatan untuk datang ke sekolah tak dapat kami hindari. Dan seperti biasa kami akan berurusan dengan piket terlebih dahulu sebelum dapat lulus untuk masuk ke kelas mengikuti pelajaran.

Kami, siap tidak siap mesti rela untuk mendapatkan hukuman mengisi air bak WC dan setelah itu kami akan mendapatkan poin nilai sebagai bentuk bukti kesalahan. Poin itu begitu singkat, tugas, dan lugas. Poin itu sebagai lambang keras  —juga menurut kami— kakunya sebuah tindakan. Tapi apa boleh buat. Kalau memang itu yang menjadi hal terbaik dalam menghukum kami. Kami juga tak dapat mengelak apalagi memprotes. Aku kebagian menimba air sumur sedang kawan-kawanku yang terlambat juga mengisinya ke dalam bak. Sengatan bau yang masam tentu saja sudah menyelusup ke hidung kami. 

Setelah kami selesai menjalankan hukuman itu. Kami kembali ke guru piket. Mengabarkan nama, mata pelajaran, dan kelas, juga terakhir tentang alasan keterlambatan kami. Guru piket sibuk menuliskan segala perihal kami di selembaran kertas kecil yang memang telah disediakan. Selanjutnya memberikan kepada kami. Baru kami boleh masuk.

Di kelas, ternyata telah ada Bu Azmi. Ia sudah menerangkan setengah pelajaran. Ia melihat kami sejenak. Aku sempat memandangnya yang seperti mengkaji wajah-wajah letih kami. Tak tampak muka marahnya atau sebuah kesan yang tertuju untuk mengatakan sebuah kejengkelan. Setidaknya —menurutku— kami yang masuk dengan peluh dan letih ini akan mengganggu konsentrasinya yang sedang menerangkan. Tapi tidak. Aku tidak menemukan raut wajahnya yang berubah seperti itu. Ia tetap cair. Bening. Lembut. Dan tersenyum untuk kami, seolah mengerti perasaan kami. Dan kami pun langsung larut ke dalam pelajarannya. Ia mengulang kembali yang masih belum ia terangkan untuk kami.
 

***
Apakah teman-temanku tersentuh pada sikap guru muda itu kemarin? Aku tak tahu persis. Apakah ada hal-hal lain yang membuat mereka senang pada guru muda itu? Aku juga tak tahu pasti. Tapi yang jelas dari sosok guru muda sederhana itu teman-temanku sangat senang padanya. Mereka diam-diam, aku hanya menebaknya sendiri, menaruh sayang. Ini tidak berlebihan. Tidak pula bermaksud untuk menepikan guru-guruku yang lain. Tapi memang kadangkala aku mendengar sendiri pengakuannya. Mereka berkata apa adanya, seperti berkata tulus tentang ibu mereka sendiri. Tentang guru muda dari desa itu. Mereka diam-diam mencintainya.

“Aku senang Bu Azmi. Dia dewasa…” kata temanku ketika istirahat.

“Aku juga.”

“Dia seperti ibuku di rumah. Jalannya persis sama.”

“Dia selalu hadir dan memberikan pesona yang lain di dalam kelas.”

Sayup-sayup aku mendengarkannya tak jauh dari arah timur depan kelas. Sebuah ungkapan yang jujur menurutku. Di siang yang letih ini sebenarnya aku tak dapat berbuat lebih giat dalam belajar, dan tak mudah untuk lebih fokus menanggapi  mata pelajaran akhir. Tapi pada pelajaran Bu Azmi, entah mengapa, aku dapat lebih sedikit konsentrasi. Entah teman-temanku…

Di sekolah kami yang sangat jauh dari luar jantung keramaian Telukbelitung ini membuat kami kadang-kadang tidak berdaya. 

Maksudku, banyak fasilitas-fasilitas yang kurang memadai. Dengan waktu istirahat yang sedikit dan hanya satu kali, yang selalu saja kami meminta permisi ke luar sekolah untuk membeli panganan karena kantin telah tutup lantaran habis tak jarang membuat kami selalu merasa letih untuk dapat mengikuti pelajaran akhir, sedang kami harus pulang pukul dua sore, juga tak adanya sarana memadai untuk shalat zuhur. Ini sebuah hal yang sangat membosankan. Kami selalu dituntut untuk belajar full dan berprestasi, dengan harapan mampu memberikan input yang mengesankan juga membawa martabat sekolah. Tapi dari satu sudut kami sangat merasa beban yang begitu menghentak. Kupikir tidak mudah untuk memberikan semua itu.

Tapi dari semua itu, kami masih memiliki semangat, yaitu Bu Azmi. Gadis Pelantai itu diam-diam telah memberi spirit yang menendang-nendang dalam hati kami. Diam-diam aku juga mencuri semangatnya dalam belajar, meski dia selalu tampak bersahaja dengan sikap jalannya yang khas itu, gemulai seperti dimainkan angin. ***

Selatpanjang, September 2010

Riki Utomi
menamatkan studi di FKIP UIR Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Belajar menulis di Forum Lingkar Pena, juga turut berproses di Sanggar Tiram Bertuah MAN Selatpanjang. Menulis cerpen, puisi, dan esai yang termuat dalam sejumlah media dan terangkum dalam beberapa antologi. Kini mengajar di sebuah sekolah kejuruan di Kepulauan Meranti. 
e-mail: rikiutomi@ymail.com. Tinggal di Selatpanjang.


olyrinson


LOST BY SATOSHI FUKUI @FOTOBLUR



ROBOHKAN LAGI PAGAR ITU, DATUK !
OLYRINSON
RIAUPOS > FEBRUARI, 6, 2011

Aku melompati pagar pembatas itu  bersamaan dengan bunyi  letusan senapan. Tas sekolahku tersangkut di ranting ketika aku berlari menerobos semak dengan membabi buta, kemudian  hilang di belukar. Hari sangat panas.  Bau rawa bercampur limbah minyak menyengatku, tapi aku terus merayap, masuk lebih jauh ke dalam hutan yang  kini hanya tersisa  tidak lebih dari  8 hektar.

Aku tidak tahu apakah suara tembakan itu   untuk menakutiku atau  untuk memancing Datuk keluar dari persembunyiannya,  yang jelas sekarang mereka mempunyai pekerjaan tambahan karena seorang remaja  yang masih berseragam sekolah berhasil menyelinap ke ladang minyak yang selama ini terkenal ketat pengawalannya.

Setelah merasa agak aman, lewat celah-celah rumput sianik yang tajam aku mengintip keluar. Beberapa puluh meter dari tempatku, dua  buah mobil security  berhenti dengan lampu tanda bahaya dihidupkan dan sebuah excavator.  Tepat di belakangnya,  pagar yang rubuh diamuk gajah  kemarin malam masih belum diperbaiki. 

Kalau mereka tidak berhasil menangkapku, mungkin itu akan menjadi pekerjaan abah yang terakhir, kecuali kalau mereka menemukan tasku, dan tahu bahwa akulah yang menyelinap diam-diam.

Beberapa orang  berbicara lewat radio, dan ada juga yang menggunakan HP. Selebihnya tempat ini sunyi senyap.  Berarti apa yang dikatakan Syafrizal benar, mereka ingin menyingkirkan Datuk secara diam-diam dan menguburnya di hutan ini.  Kemudian aku menunggu.  Sebentar lagi tempat ini akan penuh dengan security untuk mencariku.
 

***
Kamarin sore abah pulang dengan wajah kusut. Keringat belum lagi kering di lehernya, dan  bau  kawat las yang terbakar memenuhi  rumah kami  ketika abah menemui mak yang sedang menyuapi adikku yang paling kecil.

“Besok aku tidak bekerja lagi di perusahaan Haji Abu bakar,  Ros,” kata abah kepada emak. “Perusahaan perminyakan akan menangkap Datuk dan membawanya ke pusat pelatihan gajah.  Kau tahu kan, kalau Datuk  sudah tidak ada, tidak akan ada  pekerjaan buatku. Aku tidak  mungkin  diterima di perusahaan kontraktor itu, karena aku tidak punya sertifikat juru las.”

“Mengapa tidak diurus saja, Bang,” jawab emak pelan. “Abang kan  sudah bisa melakukan pekerjaan mengelas.”

“Dari mana kita cari uang enam juta rupiah, Ros. Sedang untuk makan anak kita saja, sudah hampir mati aku mencarinya.  Lagi pula mana ada perusahaan itu yang mau menyekolahkan karyawan barunya, apa lagi yang tidak  tamad SD seperti aku. Hanya di perusahaan LBD  itu saja orang kecil seperti kita bisa bekerja.”

“Kalau Abang tidak bekerja, kita mau makan apa? Bagaimana sekolah Ujang? Sebentar lagi dia mau masuk SMA.”

“Tak tahulah aku, Ros. Mungkin akan jadi pemulung seperti dulu. Habis mau kerja apa lagi? Ikan sudah tak ada di sungai, dan lebah tak bersarang lagi, karena pohonnya sudah habis di tebang.”

Mak tak berbicara. Aku tahu dia marah dan tidak setuju abah jadi pemulung, karena itu adalah pekerjaan beresiko. Pemulung yang dimaksud abah adalah  mengumpulkan besi-besi tua di lokasi perminyakan, yang bagi perusahaan perminyakan pekerjaan itu dianggap mencuri, dan bisa ditangkap. Meski kami hanya mengumpulkan besi-besi kecil berkarat yang jumlahnya cuma beberapa kilo sehari. Sudah banyak tetangga kami yang tertangkap dan dipukuli oleh security, bahkan ada yang dijebloskan ke penjara.

Aku meringkuk di sudut dapur sambil menunggu air mendidih. Abah sudah pergi entah ke mana, mungkin terlalu pusing memikirkan apa yang akan kami makan besok kalau abah tidak bekerja lagi. Seekor lalat terperangkap di jaring laba-laba, yang mengingatkanku akan nasib Datuk yang saat ini terperangkap dalam  hutan yang tersisa tak lebih dari 8 hektar lagi. Semua hutan di sekitar ladang minyak sudah dibuka untuk lokasi pengeboran minyak, sehingga semua  hewan yang ada di dalamnya saat ini  terperangkap dalam hutan yang sedikit itu.

Selama ini  secara  tidak langsung, Datuklah yang menghidupi keluarga kami. Ceritanya seperti ini :  Karena tidak ingin ladang minyak dimasuki oleh pemulung yang mencari besi tua bekas  pengeboran, maka perusahaan perminyakan membangun  pagar  kawat yang membatasi  perkampungan dan ladang minyak. Hal tersebut efektif untuk meredam masuknya pemulung, tapi  tidak  untuk Datuk.  Gajah tunggal berbelalai panjang itu marah ketika mengetahui jalannya menuju kampung ditutup pagar besi.

Selama ini Datuk (begitu kami  memanggilnya karena dianggap keramat)  tiap malam  keluar mencari makan di  sekitar kampung.  Karena lapar, Datuk setiap malam menghancurkan satu pagar besi agar dia bisa pergi ke ladang penduduk mencari makan. Tidak ada penduduk kampung yang keberatan Datuk masuk kampung kami, karena Datuk hanya mencari keladi liar dan ubi beracun yang tidak kami makan.

Tapi bagi perusahaan perminyakkan, setiap kepergian Datuk ke kampung, adalah  biaya yang harus keluar karena kepergian Datuk berarti ada satu pagar yang roboh dan harus segera diperbaiki.  Disebabkan pekerjaan tersebut kecil hanya mengelas dan mengganti pagar, maka pekerjaan itu diberikan kepada perusahaan  LBD Haji Abu Bakar.

LBD (Local Business Development) adalah kontraktor lokal dengan lingkup pekerjaan kecil yang diberikan  khusus kepada penduduk setempat untuk pemerataan, sementara pekerjaan besar yang jumlahnya  jutaan dolar, umumnya diambil oleh perusahaan kontraktor yang bukan berasal dari daerah kami.

Di perusahaan LBD Haji Abu bakar itulah abahku bekerja sebagai juru las yang tak bersertifikat. Pekerjaan abahku mengelas dan mengganti pagar apabila ada pagar yang roboh diamuk gajah. Setiap  pagar yang dorobohkan Datuk untuk mencari makan, berarti adalah pekerjaan bagi abah, dan makanan bagi anak-anaknya.

Sudah hampir dua tahun perusahaan itu melakukan pekerjaan mengganti pagar itu, dan selama itu pula abahku bekerja di perusahaan LBD itu.  Aku tidak tahu apakah perusahaan itu segaja  membiarkan hal itu terjadi agar ada kesempatan bekerja untuk penduduk lokal, atau takut kepada media yang gencar mengkampanyekan  penyelamatan gajah. Yang pasti setiap kali Datuk merobohkan pagar itu, setiap kali itu pula ada nasi dan lauk di rumah kami.

Sering kali untuk menunjukkan rasa terima kasihku, diam-diam aku mengumpulkan umbi-umbian liar dan meletakkannya di jalan yang biasa dilalui Datuk, agar dia  dapat makan dan segera kembali ke hutan habitatnya. Hal itu menjadikan kami sebagai dua orang sahabat yang  tidak saling mengenal, tapi saling mengasihi.


***
Semilir angin membelai wajahku, membawa aroma minyak mentah bercampur gas H2S yang membuat mual.  Kicau burung sesekali terdengar kemudian suara keresek ranting yang diinjak. Mungkin kijang, pikirku. Tapi makin lama suara keresek itu makin jelas terdengar, disusul suara senjata yang dikokang. Aku mundur, membuka baju sekolahku yang bewarna putih agar tidak mencolok dan membenamkan tubuhku di rimbunan sikaduduk yang tumbuh rapat. 

Suara radio sayup-sayup terdengar, tapi aku tidak jelas apa yang mereka bicarakan.
Kemudian aku mendengar suara keresek yang lebih jelas. Mereka sudah dekat sekali. Aku tidak bisa melihat wajah orang yang berjalan di sekitarku, tapi aku mendengar jelas apa yang mereka bicarakan.

“Pokoknya begitu nampak kita tembak. Ingat, jangan sampai  gajah itu keluar dari hutan ini, akan sangat merepotkan untuk menyembunyikan mayatnya. Kita tembak di dalam hutan ini, dan kemudian gali lobang dengan excavator dan timbun. Habis perkara.”

“Tampaknya perusahaan perminyakkan ini sudah habis sabar dengan gajah ini. Sudah dua tahun  gajah sialan ini merobohkan pagar mereka agar bisa menyeberang ke perkampungan penduduk  mencari makan. Setiap kali dirobohkan, setiap kali itu pula mereka membangunnya lagi untuk menghindari para pemulung itu. Pekerjaan bodoh, menurutku. Ha… ha… ha…”  Seorang yang lain menimpali seraya tertawa.

“Ini hukum alam,” kata yang  ketiga. “Hutan mereka dihabisi, tempat tinggal mereka dijadikan ladang minyak. Mereka mau tinggal dimana dan makan apa?”

“Gajah saja bisa marah karena lapar, apa lagi manusia ya? Ha… ha… ha…” orang yang pertama tadi menyambung.

“Tapi masa bodoh.  Itu urusan mereka.  Kita dibayar untuk ini. Tembak gajah itu, ambil gadingnya dan perusahaan perminyakan bebas dari biaya mengganti pagar setiap hari. Mumpung media sekarang sedang tidak menyorot masalah satwa langka.”

Aku bergidik perkataan Syafrizal tadi pagi mengiang di telingaku. Syafrizal adalah anak salah seorang kepala security perminyakan. Kami bersahabat karena sama-sama  pencinta hewan. Syafrizal mencintai binatang karena sifat keingintahuannya, aku mencintai mereka karena  berutang, terutama kepada Datuk, sebab dialah yang selama ini memberikan peluang kerja bagi abah.

“Jangan bilang siapapun,” kata Syarfrizal tadi pagi. “Mereka ingin menghabisi Datuk dan menguburnya di hutan. Aku mencuri dengar ketika ayah berbicara dengan salah satu pemburu bayaran itu.”

“Kata abah mereka akan menangkap Datuk dan mengkarantinanya di pusat latihan gajah.”

“Jangan bodoh, kau. Tidak mungkin mereka katakan yang sebenarnya, media akan tahu dan heboh. Kalau mereka membawa Datuk ke pelatihan gajah, akan banyak pihak yang terlibat, dan orang akan tahu, bahwa masih banyak hewan  liar di hutan yang tersisa itu. Izin mereka melakukan pengeboran bisa dihentikan. Kudengar di hutan  yang sedikit itu, juga ada harimau, tapi tidak mengganggu perusahaan, makanya dibiarkan.”

Perkataan Syarizal terus mengusikku sepanjang sisa pagi itu. Pada jam terakhir pelajaran, aku berpura-pura mendadak sakit perut dan izin pulang. Sebelumnya aku meminjam korek api kepada Pak Yono, penjaga kantin sekolah dengan alasan akan membakar sampah. Selanjutnya, aku sudah berada di  hutan ini.


***
Akhirnya aku menemukannya di situ, berdiri tenang dengan belalai yang sesekali bergoyang. Rasa sayang  mengalahkan ketakutanku.  Tidak ada waktu lagi, Datuk harus segera keluar di tempat terbuka sehingga tidak mungkin ditembak tanpa terlihat.  Anak pohon sialang tumbuh rapat di sekeliling kami, yang mengingatkanku akan kejayaan masa lalu, ketika kami hidup dari lebah yang bunyak tumbuh di pohon sialang yang besar.

“Kita tidak bisa makan lagi. Sungai sudah tercemar dan lebah tak lagi  bersarang di pohonnya…” Kata-kata abah mengiang, menyebabkan aku hampir menangis. Saat ini satu-satunya harapan keluarga kami menyambung hidup sedang berdiri dengan tenang di depanku, tidak tahu  bahaya yang sebentar lagi menyerangnya.

“Datuk…Datuk…” kataku pelan. Gajah itu bergeming. Aku memegang punggungnya pelan, teringat bagaimana malam-malam aku memberinya makan umbi-umbian. Meski sudah sering aku melihat gajah ini, tapi aku belum pernah sedekat ini. Gajah ini begitu besarnya dengan kerut yang banyak disekitar lehernya.  Belalainya panjang dengan gading yang besar.

Aku mendengar suara keresek lagi. “Datuk,  kau harus pergi, Datuk. Pergi…!” Belalainya bergerak sebentar. Dia menoleh kepadaku. Matanya berair seperti menangis, dan air mataku pun jatuh. Aku tidak tahu mengapa aku menangis, mungkin karena  aku tidak akan melihat gajah ini lagi, atau karena abah tak bekerja lagi di perusahaan LBD. 

Suara keresek itu makin dekat. Aku panik, reflek meraih korek api di saku celana pendekku. Datuk harus keluar hutan, kalau tidak dia akan mati ditembak. Ingat itu, seperti orang gila, aku mengumpulkan ranting kering dan ilalang, kemudian membakarnya.

Sebentar saja api itu membesar, karena  musim kemarau dan banyak ranting kayu yang mati di sekitar kami.

“Datuk lari…!”  Asap membumbung tinggi. Api membuat  gajah itu merespon, dia gelisah dan bergerak berputar-putar.  Kemudian aku mendengar suara letusan lagi, dan teriakan orang-orang. “Hutan terbakar! Panggil pemadam.”

Pada saat itulah aku mengambil sebuah dahan yang terbakar dan menghantamkannya kepunggung Datuk seraya berteriak agar dia lari. Gajah itu tersentak, sadar akan bahaya  yang mengancam dan berlari keluar belukar.

“Aku melihat gajahnya!” Seseorang berteriak.

“Tembak dia sebelum mencapai perkampungan dan bakar mayatnya di hutan ini.” Orang  yang lain berteriak. Suara letusan terdengar lagi disusul suara ribut burung-burung yang terbang dari hutan.

Aku berlari di belakang Datuk dan terus berteriak menakutinya agar dia terus lari keluar hutan.

“Hancurkan pagarnya,  Datuk! Hancurkan pagarnya…!”

Datuk  terus berlari kencang, kali ini dengan membabi buta dan terus ke arah barat. Naluri membuatnya kembali ke tempat di mana hampir setiap malam dia merobohkan pagar untuk bisa mencari makan. Aku terus berlari di belakang Datuk di antara bunyi senapan yang sesekali menyalak.

Hampir mencapai pinggir  jalan beraspal tempat pagar itu berdiri, Datuk berhenti sebentar, dan menoleh ke arahku. Aku melihat matanya yang basah, dan aku tersentak. Satu langkah lagi, dan dia tidak mungkin ditembak. Beberapa penduduk  berlarian diluar pagar, mengira ada kebakaran di ladang minyak, karena api  makin besar.

“Terus lari Datuk…! Robohkan pagarnya…!” Aku berteriak,  lalu terdengar suara tembakkan terakhir dan aku merasakan   angin yang sangat dingin  mengusap lambung sebelah kananku.

Aku masih berlari beberapa langkah, dan melihat Datuk menyeberang jalan, dan dengan sekali hantam robohlah pagar itu. Aku tersenyum, suara keresek menghilang, disusul bunyi sirene mobil pemadam kebakaran milik perusahaan perminyakan. Kemudian aku berhenti di sekitar rimbunan pohon buah karimunting yang sedang berbuah lebat. Aku merasa haus dan ingin  menghilangkan dahaga dengan buah hutan itu, tapi tenagaku sudah habis.

Aku melihat pinggangku. Darah  mengucur dari luka bekas tembakan. Peluru nyasar  yang bersarang di pinggangku  terasa panas sekarang, tapi darah yang mengalir itu mengingatkanku pada keringat yang mengalir di kening abah ketika dia  bekerja menghidupi kami.

Suara  sirene itu makin dekat, dan suara-suara binatang yang keluar dari hutan.  Aku memandang tas sekolahku yang masih tergantung di sebuah ranting ketika aku berlari tadi. Kuingat, di dalamnya PR Bahasa Indonesia  baru separuh kukerjakan. Lalu wajah emak dan  abah datang berganti-ganti, juga wajah adikku. Kemudian wajah Syafrizal dan rahasia kami  mengenai Datuk. Aku ingat sekolah, teman-teman dan keinginanku untuk jadi dokter hewan yang tak akan mungkin lagi kugapai.
 

Lalu semuanya jadi gelap, kemudian terasa sepi,  begitu sepi…***

September 12, 2010

Olyrinson
adalah cerpenis dan novelis. Sering memenangkan berbagai lomba menulis cerpen dan novel. Saat ini sedang mempersiapkan buku kumpulan cerpennya, Sebutir Peluru dalam Buku. Tinggal di Pekanbaru.