Jumat, 18 Februari 2011

Sunaryono Basuki Ks

ISLAMIC ARCS BY SADIQ ALI AL QATARY @FOTOBLUR


Pak Morgong
Sunaryono Basuki Ks
Riaupos > December 26, 2010


Asap rokok  Pak Morgong memenuhi ruang tamu kami, membuat Bu Louise dan Bu Juli yang tinggal serumah dengan kami segera meninggalkan ruang publik itu walau pun ada film bagus di tv yang kami letakkan di situ. Dengan tenang Pak Morgong bekerja di depan komputer satu-satunya di rumah kami. Sebetulnya komputer itu milik fakultas yang dipinjamkan kepada kami serumah yang bersepuluh orang, namun kami tak punya kesempatan memakainya, sebab Pak Morgong dengan jumawanya menghaki benda fungsional itu sepenuhnya.

Namun, aku sebagai “lurah” di rumah itu dan dua rumah lainnya  tidak pernah melapor kepada Sue Dechow, ketua program penyegaran yang kami ikuti di Ohio State University, Columbus. Kami bertiga: Pak Nardi, Pak Riza yang menamai diri kami Trio Los Gilos memilih membeli sebuah mesin tulis  elektronik merk Panasonic dengan perlengkapan Daisy Wheel dengan pilihan beberapa ukuran font serta fasilitas pita putih untuk koreksi. Dengan mesin tulis itulah kami mengetik buku teks yang harus kami selesaikan dalam tempo lima bulan kami berada di Columbus.
 

Kalau aku perlu menggunakan komputer, aku pergi ke ruang komputer di kampus dan selalu kupilih ruang ruang paling dekat dengan tempatku tinggal walau pun di kampus banyak ruang komputer yang merupakan bagian dari perpustakaan fakultas-fakultas.

Sekarang bulan puasa, dan di antara sepuluh orang yang tinggal di rumah kami enam di antaranya muslim dan semua berpuasa termasuk Pak Morgong, dan puasa di negeri asing sangat berat sebab belangsung dari jam 4 pagi sampai jam delapan malam. Tetapi bagiku puasa 16 jam biasa saja, bahkan aku pernah berpuasa selama 19 jam, yakni ketika aku melakukan konsultasi pada Mr Eugene Smith di University of Washington di Seatle. Berangkat dari Columbus pagi hari dan di Seatle hari itu  berbuka juga jam delapan malam tetapi, beda jam di Columbus dan Seatle tiga jam.

Menurut guru agamaku, waktu berbuka puasa cukup minum air putih dan makan buah kurma sebiji dua sesudah itu salat Maghrib. Barulah makan nasi.
Namun saat aku menyerukan: sudah waktu buka, Pak Morgong langsung menyerbu dapur, memenuhi piringnya dengan nasi beserta lauk-pauknya. Sudah menjadi peraturan di rumah kami dengan menanak nasi. Siapapun yang menemukan rice cooker kosong, wajib mencuci beras dan menanak nasi, dengan demikian selalu ada nasi di dalamnya. Sedangkan membeli beras dua bungkus besar tugas teman kami Rusdi dari Yogya.

Setelah minum air dan makan buah kurma yang ditanam di California, aku mengambil air wudhu dan salat, baru turun ke ruang tamu tempat kami berkumpul dan menjumpai Pak Morgong sedang nikmat merokok. Aku ke dapur, mengambil sedikit nasi dan lauk paha ayam, dan tiga lembar daun lettuce sehingga piringku nampak penuh. Pak Morgong selalu mengolokku, mengatakan makanku banyak walau aku mengangkat lettuce itu dan menunjukkan nasiku yang sedikit. Aku tidak sakit hati.

Satu hal lagi yang menarik perhatianku. Saat berpapasan dengannya keluar dari kamar mandi, kulihat wajahnya masih basah habis mengambil air wudhu dan air menetes sepanjang perjalanan ke kamarnya. Untunglah lantai ditutupi karpet sehingga tidak licin. Giliranku mengambil air wudhu dan mengeringkan wajahku dengan tisue yang kami sediakan dan kembali ke kamar. Kelak baru aku dengar dari Pak Joko ketika kami salat bersama, bahwa air yang menetes dari wajah itu memang tak boleh dihapus dengan handuk yang tentunya kotor, sebab air itu adalah para malaikat.

Menjelang lebaran kami semua termasuk yang beragama Nasrani mengumpulkan uang untuk dibelikan bahan memasak yang istimewa untuk Hari Raya. Kami semua berkumpul di rumah menyiapkan masakan istimewa itu kecuali Pak Morgong yang pergi ke kampus entah apa yang dikerjakan. Menjelang Maghrib barulah dia pulang dan singgah di tempat kami yang sedang sibuk memasak.

“Apa yang bisa aku bantu?” katanya dengan simpatik.

Karena semua hampir siap, aku juga menjawab untuk menyenangkan hatinya.

“Bapak istirahat saja, kami sudah hampir siap.”

Tidak kulihat wajahnya yang bau rokok saat dia meninggalkan kami. Semua rasanya berjalan baik-baik saja, dan kami terus bekerja dengan gembira. Rasanya kegembiraan bersama itu luar biasa, kami yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, berkumpul di satu rumah menyiapkan masakan istimewa untuk Hari Raya Idhul Fitri di negeri asing. Aku jadi teringat Lancaster University tempatku menempuh studi S2. Di sana ada bangunan yang namanya Chaplancy Centre yang aku namai Gedung Pancasila sebab gedung ini dipakai beribadah umat berbagai agama. Pada hari Jumat kami menurunkan permadani dari kantor Moslem Society dan mengelarnya di satu ruangan, dan di ruangan itu kami melaksanakan salat Jumat, sementara di luar sudah menunggu pedagang ayam asal Pakistan. Mereka menjual ayam halal dan dengan ofensif mengunjungi kamar-kamar kami di hari-hari biasa. Pada saat lain kulihat umat agama lain menggunakan ruang yang kami pakai Jumatan itu.

Sekarang, kami juga berada di rumah Pancasila, berteduh di naungan kasih sayang, menyiapkan masakan istimewa dibantu teman-teman yang beragama Nasrani. Waktu saat yang kami nantikan tiba, aku mengetuk kamar Pak Morgong dan mengajak dia makan bersama, namun aku hanya melongo mendengar jawabannya:

“Kalian hanya mau uangku. Makanlah sendiri.”

“Ya, Allah, maafkanlah kami dan maafkan pula saudara kami Pak Morgong,” bisikku.****

Singaraja, 2010

Sunaryono Basuki Ks adalah sastrawan. Menulis berbagai genre sastra dan telah diterbitkan dalam puluhan buku. Meski saat ini sedang sakit dan selalu ditemani kursi roda ke mana-mana, namun semangat menulis tetap tak pernah berhenti. Tinggal di Singaraja, Bali.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar