Di Sana, Dia Ingin Membunuh Pikirannya Sendiri
Oleh Riki Utomi
December 19, 2010
Akhir-akhir ini ada sesuatu yang mengganjal dalam benaknya. Yang juga entah mengapa ia juga tidak tahu sehingga berujung kepada pikirannya. Tidak seperti biasa yang ia selalu rasakan.
Tadi, setelah bangun tidur, mendadak ia mengingat pesan orang tuannya agar terbiasa bangun pagi, ia langsung mencebur diri ke parit di samping rumah.
Sebuah parit dengan air warna merah bening tanah gambut. Dia mencoba berendam sejenak, sekadar melepas lelah yang seperti biasa ia lakukan setelah pulang sekolah di kamar. Tapi kali ini benar-benar tidak, ia melepaskan pikiran-pikirannya yang berat dengan terjun ke dalam parit.
Sungguh benar-benar perbuatan tak masuk di akal dan tolol. Dia pun tak tahu mengapa, hanya perasaannya yang berkata begitu.
Setelah menghirup bau tanah gambut itu, ia menarik napas lalu menghembuskannya kembali dalam setiap tiga ketukan yang ada dalam pikirannya. Dia tak mempedulikan sekujur pakaiannya yang basah. Juga sengatan matahari pagi yang mulai cerah namun lambat-lambat menjadi garang.
Tidak masalah baginya untuk sekadar melepas keterbelengguan pikirannya yang dia rasakan rancu akhir-akhir ini. dia membuka mata. Berusaha menatap apa saja dengan lembut seperti dua pasang mata ibu yang melihat anaknya. Kemudian masih menarik napas untuk dapat selega-leganya.
Dia kembali bangkit setelah pikirannya terasa agak ringan. Berjalan letih ke arah utara menuju rumahnya. Dia hanya sendiri saat ini tinggal di rumah karena kedua orang tuanya harus ke luar kota karena urusan dinas. Setelah memasuki pengkarangan rumah, lamat-lamat perasaannya mulai bimbang.
Ada perasaan-perasaan yang lamat-lamat mengelus dadanya kemudian menendang-nendang hatinya. Ia pejamkan mata, mulai goyah. Sungguh. Sebenarnya ia tidak mengharapkan hal-hal seperti ini lagi. Di mana setiap inci detak jarum jam selalu menerornya.
Apa karena gara-gara kesunyiankah ia sampai begitu? Ucapnya selalu berpikir. Tapi tidak. Ia tidak merasa sunyi. Dalam rumahnya cukup mewah. Tersedia segala keperluan untuk masalah makan, mandi, dan juga yang lain. Dia cukup beruntung sebenarnya tinggal di rumah mewah karena kedua orang tuanya seorang pejabat penting kota ini. Tapi semuanya itu ”ternyata” tidak membuatnya larut dalam menikmati. Dia semakin merasa terpojok. Masalah itukah?
Dia telah masuk ke dalam rumah. Rumah tampak rapi karena Bi Ijah, pembantu di rumah itu, telah membersihkan semua ruangan dalam rumah. Tapi perempuan paruh baya itu telah tak tampak karena langsung pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya di awal Subuh, baru kembali lagi setelah matahari melewati pukul delapan.
Dia menuju dapur, membuka kulkas dan meneguk segelas jus anggur. Meminumnya dengan geleguk yang gemetar. Lalu mengambil sepotong roti berselai mentega di meja makan, melahapnya dengan rakus. Setelah itu duduk termenung di kursi ruang tengah.
Dia tak berselera menikmati tembang-tembang musik mengawali pagi yang ada disiarkan langsung oleh siaran-siaran swasta seperti biasa. Tidak. Benar-benar tidak berselera. Dia hanya termenung sambil mencoba menikmati kicauan burung beo yang terkurung dalam sangkar di tepi teras rumahnya.
Dia masih terus berusaha menghalau pikiran-pikirannya yang menurutnya semakin aneh itu di dalam kepalanya. Untuk itu dia berusaha berkonsentrasi menikmati kicauan-kicauan burung yang lain yang semakin ramai terdengar. Tapi… tidak. Dia menggelengkan kepala. Tak ada perubahan dalam pikirannya.
Tapi perasaannya lambat-lambat mulai kembali kacau, hatinya seolah terbelah, dan degup jantung di dadanya kembali bergelombang. Dia merasakan nafasnya mulai tak teratur. Dan ia sudah berada dalam kondisi yang —menurutnya sendiri— menyedihkan.
Dia semakin merasa telah kacau….
***
Dia mencoba memungut serpihan-serpihan ketenangan. Kau tahu? padahal rumahnya cukup jauh dari hiruk-pikuk kendaraan.
Ketenangan sebenarnya bisa dengan leluasa hadir bersamanya karena di sekitar rumah yang megah itu banyak berdiri tegak tanaman hias, pepohonan rindang, dan binatang-binatang piaraan yang menggemaskan. Tapi tidak. Dia masih cukup sulit menemukan keheningan pikirannya sendiri. Apa dia tak tahan sepi…
Dia mencoba bertahan. Perlahan urat-urat di wajahnya mulai menegang. Pelan-pelan merayap ke pikirannya yang mulai kacau. Dia memejamkan mata, rapat-rapat. Kemudian sesegukan tanpa sadar, seperti seseorang yang telah kehilangan kekasih. Dia seoalah bangunan yang runtuh setelah dilantak sebuh mortir.
Dia menggeleng dengan harapan dapat melepaskan keterbelengguan itu secara sempurna. Kemudian menjerit… meracau… mengumpat… menerjang… meludah… mencaci-maki… bernyanyi-nanyi… tertawa terbahak-bahak… diam. Hanya nuansa sunyi yang ia dapati. Apa kegilaan sudah menggerogoti dirinya, pikirnya….
Dia rubuh di ranjang. Tubuhnya memantul-mantul seperti bola pingpong. Napasnya tak menentu. Menderu-deru, mirip seperti dikejar hantu. Dia menatap nyalang ke langit-langit kamar. Pikirannya mencoba menembus seng, awan, matahari, langit, dan semakin berkecamuk tak menentu.
Dan… tusukan-tusukan tajam kembali memerihkan pikirannya membuat ia menahan pusing tanpa ampun. Dia menjerit sambil menjambak rambut sendiri. Berguling-guling seperti ayam baru disembelih. Melolong dan tak seorang pun datang kepadanya. Di batas ketakberdayaannya, dia merasa dunia telah gelap…
***
“Mungkin Bapak dan Ibu terlalu sibuk.”
“Mungkin Bapak dan Ibu terlalu sibuk.”
Suami istri itu saling memandang. Mereka merasa tak rela akan ucapan dokter itu. Sebenarnya mereka tidak mengharapkan ini terjadi. Bagaimanapun sibuknya mereka berada di luar kota, pasti mereka senantiasa memberikan hal terbaik untuk anak semata wayangnya.
“Apakah bisa pulih kembali dia, Dok?”
“Sebaiknya anak Ibu dibawa ke psikiater.”
Mereka manarik nafas.
***
Dia mendapati dirinya entah di mana. Dia memperhatikan sekeliling, kosong. Hampa tak ada benda-benda. Hanya angin semilir mengelus kulitnya membuat ia bergidik. Sepi. Dimana ini… apakah ia sedang bermimpi? Dia mengucek-ucek mata. Berusaha untuk lebih jelas memandang. Tidak. Dia tidak bermimpi.
Segala yang ia pandang hanyalah kabut asap putih yang terbang pelan-pelan.
Dan ia mencoba berjalan. Mengikuti kehendak hati. Kali ini perasaan dan pikirannya agak lapang, meski sedikit denyut masih tersisa di belakang kepala. Dengan pesimis ia terus melangkah. Menerobos ketidakpahaman. Mencoba mencari jarak atau batas kehidupan yang tak ia paham. Dan ia masih bertanya tanpa haluan.
Sekilas ia mendengar seperti suara menyapa. Merambat-rambat ke gendang telinganya. Semakin lama suara itu semakin terasa jelas. Ia mencari sumber suara itu, tapi tak berhasil dari arah mana tepatnya. Lama-lama suara itu keras. Dan mengguntur memekkkan telinga. Ia menjerit sambil menutup telinga.
“Kemarilah!!!”
Ia linglung.
“Kemarilah!!!”
Ia terpaku.
Suara itu menyuruhnya untuk segera menuju ke suatu tempat. Tapi ia merasa gelap. Matanya terpejam rapat. Pada menit yang ia masih bisa merasakan dahsyat sebuah kekuatan yang bisa melemparkannya sejauh beberapa depa, ia semakin menjerit ketakutan. Tak ada yang bisa ia harapkan dari siapapun. Aneh… apa ia tak lagi ingat Tuhan?
***
Sentuhan halus itu merayap di pipinya. Perlahan-lahan matanya terbuka. Meski berat ia berusaha menyatukan bayangan-bayangan yang kacau, pikiran-pikiran yang semrawut, dan keletihan yang sangat. Meski ia tidak pernah merasa berlari kencang beratus-ratus meter.
Tapi tubuhnya telah berkeringat deras membuat hampir seluruh bajunya basah. Bayangan itu menyatu. Ia mencoba mengingat, namun terasa sulit. Tapi setelah tajam benar apa yang dia lihat ia sadar itu adalah ibunya.
Dan sebelah lagi adalah ayahnya yang menatapnya dengan murung. Dan di sebelah ayahnya seorang tua dengan kepala melingkar kain putih dan berjenggot.
Juga di belakangnya sejumlah orang-orang yang tak seberapa kenal ia. Apa yang telah mereka lakukan? Pikirnya.
Tak ada kata-kata yang ia dengar. Semua membisu. Semua menatapnya dengan sayu seolah menatap sebuah keberangkatan yang abadi. Ia sulit untuk membalikkan badan karena terasa telah kaku. Tapi ia tidak merasakan mati. Aku tdiak mati, pikirnya yang masih kacau.
Ibunya menyodorkan segelas air putih. menyangga kepalanya dan ia mendongak untuk meminum. Hanya beberapa teguk. Ia kembali memejamkan mata. Dalam keadaan yang letih, ia masih berusaha menjauhkan pikiran-pikiran berat yang kadangkala begitu cepat dan bertubi-tubi menyerangnya.
“Istirahatlah….”
***
Barangkali… tak ada pilihan lain. Sungguh ia merasa telah menjadi setengah gila. Sejak ia tak sadarkan diri selama hampir seminggu, ia sempat tak teringat apa-apa, pun kedua orang tuanya sendiri. Ia telah berusaha mati-matian untuk menyadarkan dirinya sendiri.
Di manapun dia berada, sedang apapun dia. Tapi segala nuansa yang didapatinya telah tenggelam bersama khayalan atau semacam pikiran yang tak ia paham. Dan ia akhirnya menjadi pendiam dan termenung sepanjang jam. Sambil menggeleng tak karuan.
Dia hanya menjadi diri sendiri yang selalu dihantui oleh hari-hari yang kusam. Menurutnya hidup selalu hitam. Tak ada cahaya terang. Apakah ini sebagai cobaan? Atau sebagai siksaan? Tetap ia tak mengerti. Ia hanya menghabiskan sisa hari hidupnya berada di kamar. Diam.
Hanya diam. Dia tak mengerti walau telah mencoba mengkaji semua yang dialaminya. Ia merasa tiap waktu pikiran-pikirannya hilang. Bahkan buntu. Untuk itu ia selalu mengurung diri di kamar. Hidup seperti tersisa sedikit. Tak ada waktu untuk meraih kembali secuil harap. Harap hanya menjadi sesuatu titik yang mungkin saja hilang dalam sekejap. Lenyap. Dan ia tetap tak mengerti.
Dalam diamnya, pikirannya kembali buyar. Pecah. Tak teratur. Pusing yang berat tiba-tiba begitu menyentak kepalanya. Ia merebahkan diri. Kembali memegang kepalanya dengan keras. Menarik-narik rambut, lalu juga menjambaknya sendiri.ia tetap tak paham. Dan ia merasa suara-suara begitu mengganggunya.
Menerornya dengan tanpa ampun. Terus memekakkkan telinganya. Ia memekik. Dan ia tiba-tiba merasa tercekik. Ia sempat berpikir, mungkin ini adalah akhir hidupnya. Dan pandangannya gelap….
***
Dan kembali… seperti beberapa waktu yang lalu. Pipinya terasa lembut karena sebuah sentuhan halus. Ia tak tahu itu tangan siapa. Pikirannya masih suram dan pandangan matanya masih gelap. Tapi sayup-sayup ia mendengar suara-suara aneh mengerubunginya.
“Sebenarnya saya tidak mengharapkan anak saya menjadi begini dokter.”
“Kita coba lagi, Bu. Ibu dan Bapak jangan khawatir. Kita masih bisa berupaya. Semoga bisa.”
Dan dia semakin tak mengerti. Mungkin saja kelak, kalau semua ruangan sudah sepi. Ia akan mencoba bunuh diri. ***
Telukbelitung, Oktober 2010
Riki Utomi, tumbuh di kota Timah, Dabosingkep dan sebuah pulau eks Kerajaan Riau-Lingga, Daiklingga. Menamatkan studi di FKIP UIR Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Belajar menulis di Forum Lingkar Pena dan Komunitas Kata. Menulis genre sastra cerpen, puisi, dan esai dan dimuat disejumlah media. Tinggal di Selatpanjang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar