Menjadi Kabut
Oleh: Cikie Wahab
November 28, 2010
Seorang lelaki menggulung syal di leher Wina dan mengecup keningnya sekali lagi. Dua buah koper ia taruh di ruang depan pintu masuk. Seperti biasa, laki-laki itu selalu manja ketika pagi-pagi sekali mereka bercengkrama di loteng rumah.
“Kau terlambat. Kenapa?” Wina memalingkan mukanya pada kabut tipis.
“Kereta macet. Kabut terlalu tebal di sana. Kenapa kau menungguku di sini? Kau bisa kedinginan nanti.”
“Dengan begitu kita selalu dekat…” Wina tersenyum.
“Aku selalu di dekatmu. Aku di sini.” Lelaki itu memeluk Wina dan membiarkan kabut menghapus kecupannya. Wina tertawa dan pada kaca meja di loteng ia rangkai huruf-huruf menjadi kata dengan jari telunjuknya.
“Kau sering mengatakan itu. Percayalah padaku. Jangan membuatku bersedih, Win.”
“Kabut selalu menahanmu. Kabut juga yang membawamu datang. Sepertinya Bumi sudah menderita seperti aku. Semua karena ulah manusia yang serakah sepertimu.” Wina berkata semaunya.
“Lalu kita bisa apa? Bukan kita yang mengatur kehidupan ini.”
“Tanpa rasa bersalah? Menyalahkan takdir. Seperti itu…?”
“Mulai lagi.” Laki-laki itu berjongkok di depan Wina dan membiarkan Wina menatap punggungnya yang tegap. “Ayo. Naik ke punggungku.”
“Aku tidak mau! Aku ingin di sini. Mengenangmuâ”
“Wina!” laki-laki itu membalikkan badan. “Aku akan lama di sini. Setelah itu, kau akan ikut ke manapun aku pergi.” Dengan suara yang serak, kabut menggosok-gosok matanya hingga merah.
“Apa sama seperti kabut ini? Yang selalu di sisimu? Berapa lama itu?”
“Selama kau menurut. Ayolah, akan kubuatkan pastel kesukaanmu. Ayo, naik ke punggungku.”
Wina tersenyum dan memeluk punggung lelaki itu. Mereka melewati tangga menuju lantai dua dan lantai dasar. Wina yakin, dadanya dan punggung lelaki itu sudah terasa jauh. Wina pelan-pelan mengecup rambut di depannya yang kini sudah berubah warna.
***
Perempuan itu menyisir rambutnya depan cermin, lalu membuka jendela. “Hmm. Sudah tengah hari, kabut masih saja ada.” Ia bergumam dan membiarkan angin masuk menerpa wajahnya. “Yuji. Aku ingin ke rumah sakit,” bisiknya pada lelaki yang duduk di depan televisi. Yang dipanggil pun terperanjat dan berdiri di samping Wina.
“Mereka mengatakan aku gila, Yuji. Mereka katakan aku menelantarkan seseorang. Siapa? Dan kau juga tak akan pulang.:”
“Wina. Aku di sini. Jangan dengarkan mereka. Apa kau mengingat sesuatu yang hilang darimu?”
Wina menggeleng dengan muka iba.
“Ya sudahlah. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit.”
Laki-laki itu mengambil jaket, juga memasangkan sweater pada tubuh ramping Wina dan sebuah Jeep meluncur juga di atas jalanan yang basah dan berkabut. Sesekali Yuji menatap Wina dan sesekali ke arah lainnya pula. Wina malah bersandar dan meremas-remas tangannya sendiri. Melihat itu, Yuji makin mempercepat laju Jeep-nya dan memanggil dokter jaga setiba di sana.
“Istrimu tidak apa-apa, Tuan. Kabut belakangan ini sering membawa penyakit. Jangan biarkan ia kedinginan, “ dokter bersuara dan memberitahu Yuji. Yuji pun merasa lega dan kembali membawa pulang Wina.
“Kau dengar, Sayang? Kau tak boleh di loteng lagi.”
“Jika aku tak menunggumu di loteng, kau tidak akan pulang.”
Yuji membelai rambut Wina. “Selamanya aku pasti pulang.”
“Jika kau tak pulang?”
“Hm, kau yang akan jadi kabut untukku!”
“Baiklah.”
“Wina. Aku tidak serius. Apa yang mereka perbuat padamu? Jangan dengarkan tetangga atau siapapun yang akan menjerumuskan kita!” Yuji menghentikan Jeep-nya dan melihat tetes mata di pipi Wina. “Berpikirlah yang jernih. Aku sudah berusaha.”
“Aku selalu melihatmu bersamanya. Anak itu! Kau tak kembali demi dia bukan?”
“Aku kembali. Di sini. Bersamamu.”
“Tapi kau tinggalkan dia di sana! Kau menghancurkan hatinya dan aku.”
“Wina! Jangan keluar!” Wina terhuyung-huyung ke tengah jalan. Yuji menariknya dan menampar pipinya. Wina terisak-isak dan membiarkan dadanya berdebar kuat sekali. Klakson yang bergema dari ujung jalan menggeser mereka untuk menepi. Yuji memeluk Wina dan membawanya kembali masuk ke Jeep.
***
Bukan tanpa alasan Wina berubah seperti itu. Entah berapa minggu yang lalu, ketika kabut mulai menjelma di kota. Wina mendapati sehelai foto bayi lelaki di tas suaminya. Ditimang-timangnya benda itu lalu menanyakannya langsung pada Yuji. Ketika ditanya, Yuji terperangah, sedikit sesal di raut wajahnya.
“Dia, anak rekan kerjaku. Mungkin ia salah menaruh foto itu.” Begitu jawaban Yuji meyakinkan Wina. Tapi Wina tak langsung percaya. Wajah anak dua tahun itu begitu mirip suaminya. Ada mata Yuji di matanya. Juga cerita orang-orang yang tak pernah lelah hinggap di telinganya.
Seharian Wina menangis di kamar, membayangkan ada wanita lain yang memberikan rahimnya untuk Yuji. Wina meremas-remas perutnya yang bekas jahitan dan tak pernah membesar menurut perkiraannya.
Wina tambah bersedih manakala Yuji harus pulang pergi untuk bekerja dan pisah darinya hingga mimpi-mimpi buruk itu leluasa datang, mimpi tentang anak lelaki yang berkata bahwa Winalah yang bersalah, hingga seorang bayi tersiksa. Wina ketakutan dan bertanya-tanya. Bagaimana rupa ibunya? Siapa dia? Dan kenapa anak itu tersiksa? Apa ibunya sudah tiada atau ia kecewa jauh dari ayahnya?
Lama sekali menunggu giliran Yuji pulang. Wina tak bisa ikut, katanya rawan sekali. Ada bencana di seberang sana, di seberang kabut yang menghalangi pandangannya. Menahan sesak itulah yang menyakitinya dan kabut semakin datang ke alam fikirannya.
“Wina, aku tak pernah mengecewakanmu. Tak ada yang memisahkan kita.” Ucapan itu yang selalu meyakinkan ia.
“Tapi. Aku tak ingin ada seorang pun yang mengganggu kita. Apa kau mengerti? Berat rasanya jika….”
“Nah, kau bicara ngawur. Jika kita punya anak, kau akan menganggapnya seperti itu juga? Apa kau ingin merawat anak yang ada di dalam foto itu?”
Wina menggeleng cepat. “Tidak akan ada yang berubah!”
“Manusia selalu ingin menguasai keadaan. Jika kau mencintaiku seharusnya kau menyadari itu. Ah… sudahlah, besok aku akan pergi. Jangan berpikir yang aneh-aneh lagi.” Yuji memunggungi istrinya dan dalam keheningan itu ia sempatkan bergumam. “Aku hanya mencintaimu, kau tak usah ragu.”
Setelah kejadian itu, Yuji pun pergi untuk beberapa waktu, namun kepergiannya kali ini turut menyisakan perasaan bersalahnya pada Wina. Ia ingin sekali istrinya itu menyadari keberadaan malaikat kecil di sisinya. Yuji pun berniat kembali saat kabut mengirimkannya perasaan takut.
Berkali-kali Yuji menatap keluar kereta. Cuaca benar-benar aneh terasa. Kabut tebal dan gemerisik daun kering seakan memberi pertanda. Selama itu pula aktivitas pekerjaan berhenti dan Yuji memilih pulang menemui istrinya tersayang.
Berkali-kali Yuji menatap keluar kereta. Cuaca benar-benar aneh terasa. Kabut tebal dan gemerisik daun kering seakan memberi pertanda. Selama itu pula aktivitas pekerjaan berhenti dan Yuji memilih pulang menemui istrinya tersayang.
“Kita akan berangkat juga?” seorang wanita menyodorkan bayi mungil ke tangan Yuji. “Kau yakin ia akan mengenali anak ini?”
“Aku tidak tahu harus berbuat apalagi. Tolong bantu aku.”
“Aku hanya takut ia menyakiti bayi ini.” Wanita itu duduk dan memperhatikan beberapa penumpang dalam kereta. Mereka tampak beku seperti salju. Sementara jalanan di luar sana terlihat memudar. Kereta masih berjalan saja seperti kesunyian yang menjelma. Yuji hanya memeluk bayi itu sambil berdoa. Namun Yuji kemudian menangis saat sebelah tangannya membuka pesan singkat dari jauh. Ia mencium aroma itu, aroma pastel kesukaan Wina dan suara-suara yang mampir di telinga; Kau tidak usah pulang. Aku sudah di sini bersamamu.
Kereta seperti bergetar dan membalikkan kekuatan Yuji menahan bayi itu. Kereta lagi-lagi berguncang seperti menahan tekanan. Mereka, orang-orang itu berteriak pelan sambil menyebut nama Tuhan. Namun Yuji hanya sempat melihat kabut menjelma wajah istrinya dan sesuatu benda menghimpit tubuhnya dan bayi itu.
***
Pagi-pagi sekali, kabut sudah ada di loteng rumah. Jari tangan seorang wanita kembali melukis huruf-huruf menjadi kata dan kalimat di atas meja kaca. Tepat di samping meja, ada pigura yang melukis indah kebersamaan mereka. Wanita itu, Yuji dan anaknya. Tulisan itu tak mau hilang meski kabut silih berganti datang.***
Oleh: Cikie Wahab, lahir di Pekanbaru. Menulis puisi dan cerpen yang dimuat di Riau Pos, Majalah Sagang, Majalah Story, HMInews.com, ilmuiman.net, dan yang lainnya. Bergiat di Sekolah Menulis Paragraf, tinggal di Pekanbaru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar