everythingandmarcos.blogspot.com
ilustrasi
Puisi-puisi Muhammad Asqalani eNeSTe
Editor: Jodhi Yudono
Selasa, 25 Januari 2011 | 03:55 WIB
saat tak mampu mentelagakan jiwa lebih baik menjelagakan jiwa-raga
retak potret : rum
rum, pagipagi aku bermimpi tertidur lelap sekali hingga tak kurasa peta ajaib telah melukis diri diatas bantal kapuk tak berwarna dan penuh kacau aroma
rum, kau tahu aku mimpi apa ya, membunuh potretmu yang terpajang di ruang istimewa ruang dimana kau katakan kita membangun mejameja cinta yang fantastik dan musykil jalusi yang kau beri nama sensasi
tapi, rum dalam mimpi itu aku benarbenar membunuhmu memoyak lehermu dengan pecahan sembilu bingkai itu kau menjerit nyalang ngilu per ngilu, tapi apa peduliku
kau tahu rum, setelah aku terjaga tubuhku penuh bercak darah yang sungguh beraroma
dan di sudut ruangan tempat kau biasa mematut rupa bingkai potretmu pecah dihantam debudebu yang hilang bentuk, aku menangis sengungukan rum, tapi tanpa dosa
ritualpohon13jan2000n11
andika : kayu semayu
dika, rintih ada di setiap jendela yang kau jamah
dika, pernah kau katakan akan melingkarkan cicin hasrat di jemariku yang kasar belum terwujud, karena kau selalu mengaku bergetar dan tak sanggup meyentuhku walau sekedar
dika, aku sudah lama membunuh rindu tentangmu dan lagi tak ada nuansa rasa kala menjaja wajahmu yang terlanjur mempesona
dika, sekarang aku gila lebih gila dari yang kulakukan saat senonoh menggilaimu tapi sungguh! ini gila paling istimewa yaitu gila no 87 akut melupa meniadakanmu
sunguh! sungguh dika! karena lupa sudah aku aroma bercinta
bersamamu mona, akan kudirikan tugutugu cinta yang tinggi dan bidang, setinggi dan sebidang dada melayang kita bebas mendaki rasa
bersamamu mona, akan kujadikan peluh mercusuar liar lenguh yang tak tersentuh mendekap persalingan senyap tubuh
mona, mari bergelora seirama mengayuh ruh ke muara haus yang memang kita butuh
mari mona! mari! memperdalam labuh ke sumber rahasia peluh kau dimana? lama tak memarahiku : sujud adam el istigfari
dulu kau memarahiku bahkan setiap kali bertemu katamu itu menu mesti kau renkarnasi mataku merah memeram bara petaka tapi tak sekali pun kubalas sunyata sekali pun tak entah kenapa????
kini kau di mana? aku tak menemukan rimbanya, sekali pun telah lekang rimba dan kota yang kuliputi
kau di mana? setidaknya kirimlah marahmu pada angin yang kata dunia dialah pengembara paripurna dari masa ke masa
kau di mana? datanglah! marahlah! aku berjanji menahan mukaku tak lagi merah karena marahmu itu rindu yang mengebugebu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar