Senin, 07 Februari 2011

Puisi-puisi Muhammad Asqalani eNeSTe

everythingandmarcos.blogspot.com
ilustrasi 


Puisi-puisi Muhammad Asqalani eNeSTe
Editor: Jodhi Yudono
Selasa, 25 Januari 2011 | 03:55 WIB


tak ada air api pun jadi

saat tak mampu mentelagakan jiwa lebih baik menjelagakan jiwa-raga



retak potret : rum

rum, pagipagi aku bermimpi tertidur lelap sekali hingga tak kurasa peta ajaib telah melukis diri diatas bantal kapuk tak berwarna dan penuh kacau aroma

rum, kau tahu aku mimpi apa ya, membunuh potretmu yang terpajang di ruang istimewa ruang dimana kau katakan kita membangun mejameja cinta yang fantastik dan musykil jalusi yang kau beri nama sensasi

tapi, rum dalam mimpi itu aku benarbenar membunuhmu memoyak lehermu dengan pecahan sembilu bingkai itu kau menjerit nyalang ngilu per ngilu, tapi apa peduliku
kau tahu rum, setelah aku terjaga tubuhku penuh bercak darah yang sungguh beraroma

dan di sudut ruangan tempat kau biasa mematut rupa bingkai potretmu pecah dihantam debudebu yang hilang bentuk, aku menangis sengungukan rum, tapi tanpa dosa

ritualpohon13jan2000n11




andika : kayu semayu

dika, rintih ada di setiap jendela yang kau jamah

dika, pernah kau katakan akan melingkarkan cicin hasrat di jemariku yang kasar belum terwujud, karena kau selalu mengaku bergetar dan tak sanggup meyentuhku walau sekedar

dika, aku sudah lama membunuh rindu tentangmu dan lagi tak ada nuansa rasa kala menjaja wajahmu yang terlanjur mempesona

dika, sekarang aku gila lebih gila dari yang kulakukan saat senonoh menggilaimu tapi sungguh! ini gila paling istimewa yaitu gila no 87 akut melupa meniadakanmu
sunguh! sungguh dika! karena lupa sudah aku aroma bercinta




bersama mona : mona

bersamamu mona, akan kudirikan tugutugu cinta yang tinggi dan bidang, setinggi dan sebidang dada melayang kita bebas mendaki rasa

bersamamu mona, akan kujadikan peluh mercusuar liar lenguh yang tak tersentuh mendekap persalingan senyap tubuh

mona, mari bergelora seirama mengayuh ruh ke muara haus yang memang  kita butuh

mari mona! mari! memperdalam labuh ke sumber rahasia peluh kau dimana? lama tak memarahiku : sujud adam el istigfari

dulu kau memarahiku bahkan setiap kali bertemu katamu itu menu mesti  kau renkarnasi mataku merah memeram bara petaka tapi tak sekali pun kubalas sunyata sekali pun tak entah kenapa????

kini kau di mana? aku tak menemukan rimbanya, sekali pun telah lekang rimba dan kota yang kuliputi

kau di mana? setidaknya kirimlah marahmu pada angin yang kata dunia dialah pengembara paripurna dari masa ke masa

kau di mana? datanglah! marahlah! aku berjanji menahan mukaku tak lagi merah karena marahmu itu rindu yang mengebugebu


Muhammad Asqalani eNeSTe. Lahir di Paringgonan 25 Mei 1988, Dalu-dalu - Rokan Hulu Mahasiswa Pend. B.Inggris semester V ( UIR ). Puisinya berjudul " Mencari Ayah..." meraih juara pertama dalam lomba Puisi dan Cerpen Remaja se-Riau yang diadakan oleh Xpresi Riau Pos baru-baru ini. Aktif di Alinea 3 FLP Pekanbaru. Tercatat juga sebagai Reporter AKLaMASI Beberapa Puisinya di umumkan di Majalah Sabili, Riau Pos, Batam Pos, Metro Riau dan AKLaMASI Mottonya " Jadilah bintang bagi diri sendiri dan semesta, niscaya jadi cahaya Langit & Bumi " Mengagumi sang Ibnu Hajar al-Asqalani



Tidak ada komentar:

Posting Komentar