PASEO BY FERNANDO AROCENA @FOTOBLUR
Menjala Ikan Patin,
Menyantapnya Beramai-ramai
Sunaryono Basuki Ks
RIAUPOS > January 30, 2011
RIAUPOS > January 30, 2011
Namun, Pak Ismail bercerita di meja makan yang digandeng-gandeng sampai bisa menampung selusin pelahap di restoran atau warung ikan patin itu, ikan patin mempunyai kebiasaan aneh. Mereka berenang beramai-ramai ke hulu, dan selalu dibiarkan lewat begitu saja oleh para pencari ikan. Ikan-ikan itu bertelur di hulu, dan seusai bertelur barulah mereka kembali ke hilir. Saat itulah para pencari ikan patin menangkapnya. Saya kira untuk memasok sebuah restoran (atau warung) yang sangat dikenal sebagai restoran dengan menu utama ikan patin, mustahillah mereka manangkapnya dengan cara memancing. Saya kira hanya anak-anak yang melakukannya sebagai hobi, ikan patin yang sedang tumpah-ruah di sungai itu, hanya dipancing saja. Satu dua ekor ikan yang berhasil dipancing cukuplah memuaskan hatinya.
Katanya, telur-telur ikan itu akan hanyut ke hilir, dan menjadi ikan patin dewasa di bagian hilir sungai. Telur-telur itu berubah tumbuh menjadi ikan patin dewasa dan kelak akan bermigrasi kembali ke hulu sungai sebagaimana yang dilakukan oleh para leluhurnya dahulu.
Walau warung itu dikenal sebagai warung ikan patin, tentu saja tidak semata-mata menjual ikan patin. Hal ini jelas padaku ketika Pak Ismail bersama beberapa orang dari kami datang ke meja yang masih dipenuhi piring mangkuk kosong dan minta pelayan membersihkannya dan juga menambah dua meja lagi sebab masih ada sejumlah orang yang akan hadir di dalam jamuan makan itu. Hanya ada tiga perempuan yang hadir, yakni istri Pak Ismail, istriku, dan seorang pewarta muda yang bekerja di koran milik Pak Ismail.
Aku merasa mendapat kehormatan sebab di dalam jamuan makan siang itu dipertemukan dengan teman kuliahku di Fakultas Keguruan Sastra Seni di IKIP
Karena aku juga tahu bahwa yang akan menjemput kami Mas Budi dan orang lain yang tahu soal itu adalah Husnu, langsung kusapa pula: “Mas Husnu ya?”
Gayung bersambut, dan dia setelah mas Budi datang, yang ikut mengantar kami ke Hotel Ibis.
Di atas meja yang digandeng tiga terhidang bukan saja ikan patin tetapi juga udang goreng, kerang rebus, dan beberapa jenis ikan lain.
Mungkin ikan kucing (catfish), ikan selais atau ikan lain.
“Jangan cakap sudah ke Pekanbaru kalau belum makan ikan patin,” kata Pak Ismail.
“Oh, begitu?” kataku dalam hati.
Aku penggemar ikan bakar. Gde Artawan yang calon doktor (waktu itu) dalam perjalanan satu mobil ke Denpasar, mengatakan bahwa di pasar senggol Lapangan Mayor Metra ada pedagang ikan bakar yang ikannya selalu baru dan daging ikannya lembut. Hanya sekitar hari Purnama, yaitu hari saat bulan purnama, dia tidak berjualan sebab katanya tak ada ikan yang bagus. Namun, lantaran lupa akan pesan itu, aku tetap ke
Aku tidak pernah tahu ikan barakuda, namun nama itu tidak asing sama sekali bagiku. Puluhan tahun sebelumnya, ketika aku menerjemahkan novel karya Alistair Maclean berjudul South by Java Head yang kuterjemahkan menjadi Di Selatann Ujung Pulau Jawa, aku berkenalan dengan ikan barakuda yang suka menyerang sampan nelayan sampai sampan bocor. Novel yang kuterjemahkan tahun 1976 saat aku pulang dari Inggris dan kukirim ke koran Sinar Harapan, dan tak pernah dimuat sebab katanya naskah hilang saat koran itu pindah kantor. Aku penasaran sebab saat pergi ke
Namun, di atas meja makan di warung ikan patin, tidak dihidangkan ikan barakuda. Entah karena bukan saat bulan purnama ketika laut pasang, entah sebab lain. Mungkin kelezatannya dikalahkan oleh lezatnya ikan patin. Kukira itulah sebabnya, sebab aku benar-benar menikmatinya. Berkali-kali aku mengambil ikan patin yang lembut, tanpa sempat menjamah udang goreng, kerang atau ikan selais. Istriku berkali-kali memperingatkan, sebab baginya “kerakusan” ini memalukan. Namun aku benar-benar mengakui bahwa ikan patin memang lezat. Aku bisa pesan udang goreng nanti di Singaraja, tetapi di mana aku harus mencari ikan patin kalau tidak di Pekanbaru?
Ternyata, dari rubrik kuliner di koran yang aku langgan, ikan patin dapat dibeli di
Singaraja, Hari Pahlawan 2010
Sunaryono Basuki Ks
adalah sastrawan. Menulis cerpen, sajak, esai, novel dan telah diterbitkan dalam banyak buku. Tinggal di Singaraja,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar