LOST BY SATOSHI FUKUI @FOTOBLUR
ROBOHKAN LAGI PAGAR ITU, DATUK !
OLYRINSON
RIAUPOS > FEBRUARI, 6, 2011
Aku tidak tahu apakah suara tembakan itu untuk menakutiku atau untuk memancing Datuk keluar dari persembunyiannya, yang jelas sekarang mereka mempunyai pekerjaan tambahan karena seorang remaja yang masih berseragam sekolah berhasil menyelinap ke ladang minyak yang selama ini terkenal ketat pengawalannya.
Setelah merasa agak aman, lewat celah-celah rumput sianik yang tajam aku mengintip keluar. Beberapa puluh meter dari tempatku, dua buah mobil security berhenti dengan lampu tanda bahaya dihidupkan dan sebuah excavator. Tepat di belakangnya, pagar yang rubuh diamuk gajah kemarin malam masih belum diperbaiki.
Kalau mereka tidak berhasil menangkapku, mungkin itu akan menjadi pekerjaan abah yang terakhir, kecuali kalau mereka menemukan tasku, dan tahu bahwa akulah yang menyelinap diam-diam.
Beberapa orang berbicara lewat radio, dan ada juga yang menggunakan HP. Selebihnya tempat ini sunyi senyap. Berarti apa yang dikatakan Syafrizal benar, mereka ingin menyingkirkan Datuk secara diam-diam dan menguburnya di hutan ini. Kemudian aku menunggu. Sebentar lagi tempat ini akan penuh dengan security untuk mencariku.
***
Kamarin sore abah pulang dengan wajah kusut. Keringat belum lagi kering di lehernya, dan bau kawat las yang terbakar memenuhi rumah kami ketika abah menemui mak yang sedang menyuapi adikku yang paling kecil.
“Besok aku tidak bekerja lagi di perusahaan Haji Abu bakar, Ros,” kata abah kepada emak. “Perusahaan perminyakan akan menangkap Datuk dan membawanya ke pusat pelatihan gajah. Kau tahu
“Mengapa tidak diurus saja, Bang,” jawab emak pelan. “Abang
“Dari mana kita cari uang enam juta rupiah, Ros. Sedang untuk makan anak kita saja, sudah hampir mati aku mencarinya. Lagi pula mana ada perusahaan itu yang mau menyekolahkan karyawan barunya, apa lagi yang tidak tamad SD seperti aku. Hanya di perusahaan LBD itu saja orang kecil seperti kita bisa bekerja.”
“Kalau Abang tidak bekerja, kita mau makan apa? Bagaimana sekolah Ujang? Sebentar lagi dia mau masuk SMA.”
“Tak tahulah aku, Ros. Mungkin akan jadi pemulung seperti dulu. Habis mau kerja apa lagi? Ikan sudah tak ada di sungai, dan lebah tak bersarang lagi, karena pohonnya sudah habis di tebang.”
Mak tak berbicara. Aku tahu dia marah dan tidak setuju abah jadi pemulung, karena itu adalah pekerjaan beresiko. Pemulung yang dimaksud abah adalah mengumpulkan besi-besi tua di lokasi perminyakan, yang bagi perusahaan perminyakan pekerjaan itu dianggap mencuri, dan bisa ditangkap. Meski kami hanya mengumpulkan besi-besi kecil berkarat yang jumlahnya cuma beberapa kilo sehari. Sudah banyak tetangga kami yang tertangkap dan dipukuli oleh security, bahkan ada yang dijebloskan ke penjara.
Aku meringkuk di sudut dapur sambil menunggu air mendidih. Abah sudah pergi entah ke mana, mungkin terlalu pusing memikirkan apa yang akan kami makan besok kalau abah tidak bekerja lagi. Seekor lalat terperangkap di jaring laba-laba, yang mengingatkanku akan nasib Datuk yang saat ini terperangkap dalam hutan yang tersisa tak lebih dari 8 hektar lagi. Semua hutan di sekitar ladang minyak sudah dibuka untuk lokasi pengeboran minyak, sehingga semua hewan yang ada di dalamnya saat ini terperangkap dalam hutan yang sedikit itu.
Selama ini secara tidak langsung, Datuklah yang menghidupi keluarga kami. Ceritanya seperti ini : Karena tidak ingin ladang minyak dimasuki oleh pemulung yang mencari besi tua bekas pengeboran, maka perusahaan perminyakan membangun pagar kawat yang membatasi perkampungan dan ladang minyak. Hal tersebut efektif untuk meredam masuknya pemulung, tapi tidak untuk Datuk. Gajah tunggal berbelalai panjang itu marah ketika mengetahui jalannya menuju kampung ditutup pagar besi.
Selama ini Datuk (begitu kami memanggilnya karena dianggap keramat) tiap malam keluar mencari makan di sekitar kampung. Karena lapar, Datuk setiap malam menghancurkan satu pagar besi agar dia bisa pergi ke ladang penduduk mencari makan. Tidak ada penduduk kampung yang keberatan Datuk masuk kampung kami, karena Datuk hanya mencari keladi liar dan ubi beracun yang tidak kami makan.
Tapi bagi perusahaan perminyakkan, setiap kepergian Datuk ke kampung, adalah biaya yang harus keluar karena kepergian Datuk berarti ada satu pagar yang roboh dan harus segera diperbaiki. Disebabkan pekerjaan tersebut kecil hanya mengelas dan mengganti pagar, maka pekerjaan itu diberikan kepada perusahaan LBD Haji Abu Bakar.
LBD (Local Business Development) adalah kontraktor lokal dengan lingkup pekerjaan kecil yang diberikan khusus kepada penduduk setempat untuk pemerataan, sementara pekerjaan besar yang jumlahnya jutaan dolar, umumnya diambil oleh perusahaan kontraktor yang bukan berasal dari daerah kami.
Di perusahaan LBD Haji Abu bakar itulah abahku bekerja sebagai juru las yang tak bersertifikat. Pekerjaan abahku mengelas dan mengganti pagar apabila ada pagar yang roboh diamuk gajah. Setiap pagar yang dorobohkan Datuk untuk mencari makan, berarti adalah pekerjaan bagi abah, dan makanan bagi anak-anaknya.
Sudah hampir dua tahun perusahaan itu melakukan pekerjaan mengganti pagar itu, dan selama itu pula abahku bekerja di perusahaan LBD itu. Aku tidak tahu apakah perusahaan itu segaja membiarkan hal itu terjadi agar ada kesempatan bekerja untuk penduduk lokal, atau takut kepada media yang gencar mengkampanyekan penyelamatan gajah. Yang pasti setiap kali Datuk merobohkan pagar itu, setiap kali itu pula ada nasi dan lauk di rumah kami.
Sering kali untuk menunjukkan rasa terima kasihku, diam-diam aku mengumpulkan umbi-umbian liar dan meletakkannya di jalan yang biasa dilalui Datuk, agar dia dapat makan dan segera kembali ke hutan habitatnya. Hal itu menjadikan kami sebagai dua orang sahabat yang tidak saling mengenal, tapi saling mengasihi.
***
Semilir angin membelai wajahku, membawa aroma minyak mentah bercampur gas H2S yang membuat mual. Kicau burung sesekali terdengar kemudian suara keresek ranting yang diinjak. Mungkin kijang, pikirku. Tapi makin lama suara keresek itu makin jelas terdengar, disusul suara senjata yang dikokang. Aku mundur, membuka baju sekolahku yang bewarna putih agar tidak mencolok dan membenamkan tubuhku di rimbunan sikaduduk yang tumbuh rapat.
Suara radio sayup-sayup terdengar, tapi aku tidak jelas apa yang mereka bicarakan.
Kemudian aku mendengar suara keresek yang lebih jelas. Mereka sudah dekat sekali. Aku tidak bisa melihat wajah orang yang berjalan di sekitarku, tapi aku mendengar jelas apa yang mereka bicarakan.
“Pokoknya begitu nampak kita tembak. Ingat, jangan sampai gajah itu keluar dari hutan ini, akan sangat merepotkan untuk menyembunyikan mayatnya. Kita tembak di dalam hutan ini, dan kemudian gali lobang dengan excavator dan timbun. Habis perkara.”
“Tampaknya perusahaan perminyakkan ini sudah habis sabar dengan gajah ini. Sudah dua tahun gajah sialan ini merobohkan pagar mereka agar bisa menyeberang ke perkampungan penduduk mencari makan. Setiap kali dirobohkan, setiap kali itu pula mereka membangunnya lagi untuk menghindari para pemulung itu. Pekerjaan bodoh, menurutku. Ha… ha… ha…” Seorang yang lain menimpali seraya tertawa.
“Ini hukum alam,” kata yang ketiga. “Hutan mereka dihabisi, tempat tinggal mereka dijadikan ladang minyak. Mereka mau tinggal dimana dan makan apa?”
“Gajah saja bisa marah karena lapar, apa lagi manusia ya? Ha… ha… ha…” orang yang pertama tadi menyambung.
“Tapi masa bodoh. Itu urusan mereka. Kita dibayar untuk ini. Tembak gajah itu, ambil gadingnya dan perusahaan perminyakan bebas dari biaya mengganti pagar setiap hari. Mumpung media sekarang sedang tidak menyorot masalah satwa langka.”
Aku bergidik perkataan Syafrizal tadi pagi mengiang di telingaku. Syafrizal adalah anak salah seorang kepala security perminyakan. Kami bersahabat karena sama-sama pencinta hewan. Syafrizal mencintai binatang karena sifat keingintahuannya, aku mencintai mereka karena berutang, terutama kepada Datuk, sebab dialah yang selama ini memberikan peluang kerja bagi abah.
“Jangan bilang siapapun,” kata Syarfrizal tadi pagi. “Mereka ingin menghabisi Datuk dan menguburnya di hutan. Aku mencuri dengar ketika ayah berbicara dengan salah satu pemburu bayaran itu.”
“Kata abah mereka akan menangkap Datuk dan mengkarantinanya di pusat latihan gajah.”
“Jangan bodoh, kau. Tidak mungkin mereka katakan yang sebenarnya, media akan tahu dan heboh. Kalau mereka membawa Datuk ke pelatihan gajah, akan banyak pihak yang terlibat, dan orang akan tahu, bahwa masih banyak hewan liar di hutan yang tersisa itu. Izin mereka melakukan pengeboran bisa dihentikan. Kudengar di hutan yang sedikit itu, juga ada harimau, tapi tidak mengganggu perusahaan, makanya dibiarkan.”
Perkataan Syarizal terus mengusikku sepanjang sisa pagi itu. Pada jam terakhir pelajaran, aku berpura-pura mendadak sakit perut dan izin pulang. Sebelumnya aku meminjam korek api kepada Pak Yono, penjaga kantin sekolah dengan alasan akan membakar sampah. Selanjutnya, aku sudah berada di hutan ini.
***
Akhirnya aku menemukannya di situ, berdiri tenang dengan belalai yang sesekali bergoyang. Rasa sayang mengalahkan ketakutanku. Tidak ada waktu lagi, Datuk harus segera keluar di tempat terbuka sehingga tidak mungkin ditembak tanpa terlihat. Anak pohon sialang tumbuh rapat di sekeliling kami, yang mengingatkanku akan kejayaan masa lalu, ketika kami hidup dari lebah yang bunyak tumbuh di pohon sialang yang besar.
“Kita tidak bisa makan lagi. Sungai sudah tercemar dan lebah tak lagi bersarang di pohonnya…” Kata-kata abah mengiang, menyebabkan aku hampir menangis. Saat ini satu-satunya harapan keluarga kami menyambung hidup sedang berdiri dengan tenang di depanku, tidak tahu bahaya yang sebentar lagi menyerangnya.
“Datuk…Datuk…” kataku pelan. Gajah itu bergeming. Aku memegang punggungnya pelan, teringat bagaimana malam-malam aku memberinya makan umbi-umbian. Meski sudah sering aku melihat gajah ini, tapi aku belum pernah sedekat ini. Gajah ini begitu besarnya dengan kerut yang banyak disekitar lehernya. Belalainya panjang dengan gading yang besar.
Aku mendengar suara keresek lagi. “Datuk, kau harus pergi, Datuk. Pergi…!” Belalainya bergerak sebentar. Dia menoleh kepadaku. Matanya berair seperti menangis, dan air mataku pun jatuh. Aku tidak tahu mengapa aku menangis, mungkin karena aku tidak akan melihat gajah ini lagi, atau karena abah tak bekerja lagi di perusahaan LBD.
Suara keresek itu makin dekat. Aku panik, reflek meraih korek api di saku celana pendekku. Datuk harus keluar hutan, kalau tidak dia akan mati ditembak. Ingat itu, seperti orang gila, aku mengumpulkan ranting kering dan ilalang, kemudian membakarnya.
Sebentar saja api itu membesar, karena musim kemarau dan banyak ranting kayu yang mati di sekitar kami.
“Datuk lari…!” Asap membumbung tinggi. Api membuat gajah itu merespon, dia gelisah dan bergerak berputar-putar. Kemudian aku mendengar suara letusan lagi, dan teriakan orang-orang. “Hutan terbakar! Panggil pemadam.”
Pada saat itulah aku mengambil sebuah dahan yang terbakar dan menghantamkannya kepunggung Datuk seraya berteriak agar dia lari. Gajah itu tersentak, sadar akan bahaya yang mengancam dan berlari keluar belukar.
“Aku melihat gajahnya!” Seseorang berteriak.
“Tembak dia sebelum mencapai perkampungan dan bakar mayatnya di hutan ini.” Orang yang lain berteriak. Suara letusan terdengar lagi disusul suara ribut burung-burung yang terbang dari hutan.
Aku berlari di belakang Datuk dan terus berteriak menakutinya agar dia terus lari keluar hutan.
“Hancurkan pagarnya, Datuk! Hancurkan pagarnya…!”
Datuk terus berlari kencang, kali ini dengan membabi buta dan terus ke arah barat. Naluri membuatnya kembali ke tempat di mana hampir setiap malam dia merobohkan pagar untuk bisa mencari makan. Aku terus berlari di belakang Datuk di antara bunyi senapan yang sesekali menyalak.
Hampir mencapai pinggir jalan beraspal tempat pagar itu berdiri, Datuk berhenti sebentar, dan menoleh ke arahku. Aku melihat matanya yang basah, dan aku tersentak. Satu langkah lagi, dan dia tidak mungkin ditembak. Beberapa penduduk berlarian diluar pagar, mengira ada kebakaran di ladang minyak, karena api makin besar.
“Terus lari Datuk…! Robohkan pagarnya…!” Aku berteriak, lalu terdengar suara tembakkan terakhir dan aku merasakan angin yang sangat dingin mengusap lambung sebelah kananku.
Aku masih berlari beberapa langkah, dan melihat Datuk menyeberang jalan, dan dengan sekali hantam robohlah pagar itu. Aku tersenyum, suara keresek menghilang, disusul bunyi sirene mobil pemadam kebakaran milik perusahaan perminyakan. Kemudian aku berhenti di sekitar rimbunan pohon buah karimunting yang sedang berbuah lebat. Aku merasa haus dan ingin menghilangkan dahaga dengan buah hutan itu, tapi tenagaku sudah habis.
Aku melihat pinggangku. Darah mengucur dari luka bekas tembakan. Peluru nyasar yang bersarang di pinggangku terasa panas sekarang, tapi darah yang mengalir itu mengingatkanku pada keringat yang mengalir di kening abah ketika dia bekerja menghidupi kami.
Suara sirene itu makin dekat, dan suara-suara binatang yang keluar dari hutan. Aku memandang tas sekolahku yang masih tergantung di sebuah ranting ketika aku berlari tadi. Kuingat, di dalamnya PR Bahasa Indonesia baru separuh kukerjakan. Lalu wajah emak dan abah datang berganti-ganti, juga wajah adikku. Kemudian wajah Syafrizal dan rahasia kami mengenai Datuk. Aku ingat sekolah, teman-teman dan keinginanku untuk jadi dokter hewan yang tak akan mungkin lagi kugapai.
Lalu semuanya jadi gelap, kemudian terasa sepi, begitu sepi…***
September 12, 2010
Olyrinson
adalah cerpenis dan novelis. Sering memenangkan berbagai lomba menulis cerpen dan novel. Saat ini sedang mempersiapkan buku kumpulan cerpennya, Sebutir Peluru dalam Buku. Tinggal di Pekanbaru.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar