SUN SHINE BY TANOY BHATTACHARYA @FOTOBLUR
GADIS PELANTAI
RIKI UTOMI
RIAUPOS > FEBRUARY, 13, 2011
Kami memanggilnya Bu Azmi, kalau guru-guru di majelis Kak Azmi. Aku tak tahu kenapa banyak rekan-rekannya memanggilnya begitu. Sebutan kata ‘Kak’ telah menempel lekat di depan namanya. Ia seperti dituakan oleh rekan-rekannya yang lain. Kami senang dengannya karena sikapnya yang bersahaja atau pun dari perangainya yang mengundang simpati pada siapa saja. Namun begitu, aku lebih senang pada segala bentuk tindak lakunya, yang menurutku sangat dewasa dan tak mengandung secuil pun sikap untuk membuat orang marah atau ia yang marah. Entahlah. Namun seperti teman-temanku yang lain, aku turut menjadi suka.
Bu Azmi tinggal di sebuah desa kecil. Desa tempatnya tinggal menjadi jalur lalu-lintas para pemudik yang ingin pulang balik dari Selatpanjang ke Telukbelitung atau sebaliknya Telukbelitung ke Selatpanjang. Untuk menempuh ke desanya dengan mengendarai sepeda motor berjarak lebih kurang sepuluh menit dari Telukbelitung. Desa yang menjadi jalur pelabuhan penyeberangan pompong untuk sampai ke tanah berikutnya yaitu Ketapang. Nama desa itu Pelantai. Sebuah desa yang sepi menurutku. Dengan penduduk yang rata-rata bermatapencaharian pokok sebagai nelayan yang selalu saja berada di laut. Menebarkan jaring, jala, atau perangkap. Lalu mengharap dengan sangat ikan-ikan yang banyak untuk dijual atau diasinkan.
Aku tak tahu persis letak rumahnya di mana. Ia masih tinggal bersama ibunya. Ia masih muda dengan umur yang kutaksir sebaya dengan bibiku di Pekanbaru. Tapi kami siswanya, selalu diam-diam, mencari atau mencuri semangatnya belajar dan selalu menanti kehadirannya untuk masuk kelas. Ia telah menjadi sosok yang melekat di hati kami. Aku tak tahu mengapa, turut juga merasakan itu, seperti teman-temanku itu. Barangkali hal ini muncul karena aku selalu melihatnya penuh senyum pada siapa saja atau karena perawakannya selalu bersahaja juga dewasa, mencerminkan sosok keibuan yang tinggi meskipun ia belum berkeluarga dan ia tak senang dipuji tapi hanya senang mengajak kami sama-sama untuk saling menghargai.
***
Sekolah kami sebuah sekolah kejuruan. Terletak agak jauh dari keramaian
Dengan terlebih dahulu melewati jalan aspal yang pecah juga becek ketika turun hujan, kita harus memiliki bekal untuk sabar. Apalagi ketika sampai di pekarangan sekolah yang sebagian besar hamparan tanah gambut yang sudah tentu membuat sepatu kita belepotan lantaran becek yang tak terkira. Kami selalu menghentak-hentakkan sepatu ketika tiba di mulut teras kelas, seperti tentara yang jalan di tempat.
Hanya untuk sekedar agar tanah-tanah becek gambut yang melekat di tapak sepatu kami tak terbawa masuk ke dalam kelas.
Sekolah kami berdiri megah di lahan baru. Setelah beberapa tahun menunjukkan eksistensinya sebagai sekolah negeri yang sebelumnya dengan status swasta. Namun yang aku kurang betah, letak yang terlalu terpojok itu, di tengah-tengah bekas hutan rumbia yang dulu mungkin saja sebagai tempat jin bertendang, kata orang-orang. Tapi ini kehendak orang tuaku sendiri yang wanti-wanti ingin aku pandai dalam bidang teknik. Untuk itu aku masuk pada jurusan Mekanik Otomotif.
Kami, siap tidak siap mesti rela untuk mendapatkan hukuman mengisi air bak WC dan setelah itu kami akan mendapatkan poin nilai sebagai bentuk bukti kesalahan. Poin itu begitu singkat, tugas, dan lugas. Poin itu sebagai lambang keras —juga menurut kami— kakunya sebuah tindakan. Tapi apa boleh buat. Kalau memang itu yang menjadi hal terbaik dalam menghukum kami. Kami juga tak dapat mengelak apalagi memprotes. Aku kebagian menimba air sumur sedang kawan-kawanku yang terlambat juga mengisinya ke dalam bak. Sengatan bau yang masam tentu saja sudah menyelusup ke hidung kami.
Setelah kami selesai menjalankan hukuman itu. Kami kembali ke guru piket. Mengabarkan nama, mata pelajaran, dan kelas, juga terakhir tentang alasan keterlambatan kami. Guru piket sibuk menuliskan segala perihal kami di selembaran kertas kecil yang memang telah disediakan. Selanjutnya memberikan kepada kami. Baru kami boleh masuk.
Di kelas, ternyata telah ada Bu Azmi. Ia sudah menerangkan setengah pelajaran. Ia melihat kami sejenak. Aku sempat memandangnya yang seperti mengkaji wajah-wajah letih kami. Tak tampak muka marahnya atau sebuah kesan yang tertuju untuk mengatakan sebuah kejengkelan. Setidaknya —menurutku— kami yang masuk dengan peluh dan letih ini akan mengganggu konsentrasinya yang sedang menerangkan. Tapi tidak. Aku tidak menemukan raut wajahnya yang berubah seperti itu. Ia tetap cair. Bening. Lembut. Dan tersenyum untuk kami, seolah mengerti perasaan kami. Dan kami pun langsung larut ke dalam pelajarannya. Ia mengulang kembali yang masih belum ia terangkan untuk kami.
***
Apakah teman-temanku tersentuh pada sikap guru muda itu kemarin? Aku tak tahu persis. Apakah ada hal-hal lain yang membuat mereka senang pada guru muda itu? Aku juga tak tahu pasti. Tapi yang jelas dari sosok guru muda sederhana itu teman-temanku sangat senang padanya. Mereka diam-diam, aku hanya menebaknya sendiri, menaruh sayang. Ini tidak berlebihan. Tidak pula bermaksud untuk menepikan guru-guruku yang lain. Tapi memang kadangkala aku mendengar sendiri pengakuannya. Mereka berkata apa adanya, seperti berkata tulus tentang ibu mereka sendiri. Tentang guru muda dari desa itu. Mereka diam-diam mencintainya.
“Aku senang Bu Azmi. Dia dewasa…” kata temanku ketika istirahat.
“Aku juga.”
“Dia seperti ibuku di rumah. Jalannya persis sama.”
“Dia selalu hadir dan memberikan pesona yang lain di dalam kelas.”
Sayup-sayup aku mendengarkannya tak jauh dari arah timur depan kelas. Sebuah ungkapan yang jujur menurutku. Di siang yang letih ini sebenarnya aku tak dapat berbuat lebih giat dalam belajar, dan tak mudah untuk lebih fokus menanggapi mata pelajaran akhir. Tapi pada pelajaran Bu Azmi, entah mengapa, aku dapat lebih sedikit konsentrasi. Entah teman-temanku…
Di sekolah kami yang sangat jauh dari luar jantung keramaian Telukbelitung ini membuat kami kadang-kadang tidak berdaya.
Maksudku, banyak fasilitas-fasilitas yang kurang memadai. Dengan waktu istirahat yang sedikit dan hanya satu kali, yang selalu saja kami meminta permisi ke luar sekolah untuk membeli panganan karena kantin telah tutup lantaran habis tak jarang membuat kami selalu merasa letih untuk dapat mengikuti pelajaran akhir, sedang kami harus pulang pukul dua sore, juga tak adanya sarana memadai untuk shalat zuhur. Ini sebuah hal yang sangat membosankan. Kami selalu dituntut untuk belajar full dan berprestasi, dengan harapan mampu memberikan input yang mengesankan juga membawa martabat sekolah. Tapi dari satu sudut kami sangat merasa beban yang begitu menghentak. Kupikir tidak mudah untuk memberikan semua itu.
Tapi dari semua itu, kami masih memiliki semangat, yaitu Bu Azmi. Gadis Pelantai itu diam-diam telah memberi spirit yang menendang-nendang dalam hati kami. Diam-diam aku juga mencuri semangatnya dalam belajar, meski dia selalu tampak bersahaja dengan sikap jalannya yang khas itu, gemulai seperti dimainkan angin. ***
Selatpanjang, September 2010
Riki Utomi
menamatkan studi di FKIP UIR Jurusan Bahasa dan Sastra
e-mail: rikiutomi@ymail.com. Tinggal di Selatpanjang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar